Setelah membaca Pantaiku Pantai kita (http://profiles.friendster.com/18597343) Saya jadi punya keinginan untuk mengunjungi pantai Karang Tawulan tersebut. Kebetulan saya dan adik-adik saya ada rencana liburan Natal di Pangandaran. Ya benar Pangandaran. Entah keberapa kali saya ke Pangandaran. Well…saya pikir pantai yang cukup bagus untuk dikunjungi dengan biaya yang affordable (walaupun biaya hotel naik dua kali lipat pada liburan akhir tahun ini) adalah Pangandaran. Sebenarnya banyak the things that you can do di Pangandaran. Makan seafood itu pasti. Bersepeda tandem, jalan-jalan di cagar alam, berperahu ke pasir putih atau ke tempat yang lebih jauh lagi untuk melihat batu..apa gitu saya lupa lagi, berbelanja pakaian pantai, pernak-pernak khas kota pantai, berkeliling dengan mengendarai ATV, atau naik becak berkeliling sekitar pantai barat dan pantai timur. Atau pergi jauh sedikit ke Cijulang, sekitar 30 kilometer arah barat Pangandaran, ada Green Canyon. Lebih jauh lagi ada pantai Batu Karas yang bersih dan teduh. Singkat cerita tidak ada bosannya saya ke Pangandaran.
Jadi pada tanggal 26 Desember kemarin saya berangkat ke Pangandaran melalui jalur selatan. Jalur yang sebelumnya belum pernah saya lalui. Rute yang harus ditempuh adalah Bandung – Garut – Singaparna – Sukaraja – Salopa – Cikatomas – Cikalong – Kalapa Genep – Cimanuk – Cijulang - Parigi – Pangandaran.
Singkat cerita dari Bandung berangkat pukul 9 pagi menuju Garut. Setelah melalui kota Garut mobil diarahkan menuju arah kota Tasikmalaya. Setelah melalui kecamatan Salawu maka kita akan memasuki kota Singaparna. Nah begitu sampai di wilayah Singaparna, di depan mesjid Mangunreja kita harus belok ke kanan. Hanya sayangnya tidak ada papan petunjuk apapun yang memberi tahu arah ke Cikalong. Papan petunjuk baru akan terbaca bagi mereka yang datang dari arah Tasikmalaya.
Anyway, di depan mesjid Mangunreja ini terdapat beberapa kios yang menjual makanan. Yang terkenal adalah kupat tahunya. Silahkan dicoba. Saya sih mencoba makan mie bakso dibagian belakang kios-kos tadi. Lumayan juga, kategori acceptable lah.
Perjalanan dilanjutkan kearah Sukaraja. Nah di Sukaraja ini sepanjang 200 meter jalan jelek banyak lubang. Untung tidak terlalu panjang. Selanjutnya kita ke arah Salopa. Setelah Salopa kita akan dihadapkan pada pertigaan dengan rambu petunjuk arah menunjukkan arah Tasikmalaya dan Cikatomas ke kiri. Lalu kita belok kiri. Selanjutnya kita harus ke Cikatomas, hanya sayangnya lagi-lagi tidak ada rambu petunjuk arah ke Cikatomas. Akhirnya setelah bablas 2 kilometer dan bertanya sekali kita balik arah. Nah dari arah sini (Tasikmalaya) baru ada rambu petunjuk arah ke Cikatomas. Jalan berliku-liku di dalam hutan. Tak lama kemudian di sepanjang pinggir jalan banyak rumah-rumah penduduk. Setelah sampai di Cikatomas, maka perjalanan terus berlanjut ke arah Cikalong, kota kecamatan di pinggir pantai selatan Jawa barat.
Setelah melewati Cikalong mobil belok kiri ke arah timur menuju Kalapa Genep. Pada jalur ini jalan mulus, sepi, dan jarang penduduk. Di sebelah kanan kita laut selatan. Nah di jalur inilah terdapat pantai Karang Tawulan. Sebuah pantai yang masih perawan karena memang tidak ada fasilitas apa-apa untuk wisatawan. Tapi justru itu kelebihannya. Pantainya bersih sekali. Pandangan luas sekali. Ombaknya besar. Tidak ada yang berenang. Saya tidak tahu pasti apakah pantai ini aman untuk direnangi. Perkiraan saya sih tidak. Ingat kita harus respect sama pantai manapun! Keindahan pemandangan di sini top banget. Beda dengan Pangandaran yang sudah over-exploited. Tidak ada bangunan, hanya pantai dan ombaknya. Beautiful! (Untuk lebih lengkap silahkan baca Pantaiku pantai kita di http://profiles.friendster.com/18597343)
Anyway, sepanjang jalur ini kita berkendaraan disepanjang pantai laut selatan. Jadi sesekali kita bisa melihat pantai itu. Kendaraan lain hanya ada satu dua. Jalan sangat lengang beraspal mulus. Suasana yang berbeda sekali dengan jalur Bandung – Ciamis – Pangandaran yang sangat ramai. Setelah melewati (desa) Cimanuk maka sepanjang beberapa kilometer jalan aspal berubah menjadi jalan beton yang sangat mulus. Cukup mengagetkan saya juga (maksudnya diluar perkiraan) jalan disini dibeton seperti jalan tol Cipularang hanya lebih sempit. Disepanjang jalur ini kita sering melihat rambu jalur evakuasi pengungsi jika terjadi bencana tsunami. Tak lama kemudian kita sampai ke Cijulang tempat pemberangkatan perahu menuju Green Canyon. Karena sudah beberapa kali ke Green Canyon, maka kita tidak berhenti di sini melainkan lanjut langsung ke Pangandaran. Sesampainya di hotel langsung istirahat. Total perjalanan yang sangat santai ini dari Bandung ditempuh selama kurang lebih 6 jam.
Besoknya kami jalan-jalan ke pantai Batu Karas. Beda sekali dengan pantai Pangandaran yang sangat ramai, kotor (banyak sampah berserakan di pantai), airnya juga keruh. Pantai Batu Karas ini airnya jernih, pasirnya bersih dan teduh karena banyak pepohonan sehingga kita bisa gelar tikar di pasir putihnya untuk membuka bekal. Anak dan keponakan saya menggerutu kenapa nggak nginap di sini, di Pangandaran nggak nyaman, terlalu banyak orang, kayak pasar malam, etc…etc…
Memang kalau ingin berlibur yang tidak terlalu gegap gembita ya di sini tempatnya. Hanya hotel-hotel di Batu Karas ini tidak ada yang dilengkapi dengan kolam renang (Kan udah ada laut! kata anak saya). Kita akhirnya sepakat jika ke Pangandaran lagi kita akan menginap di pantai Batu Karas. Dijamin nggak akan nyesel!
AF
Rabu, 31 Desember 2008
LES MISERABLES
Film “Les Miserables”
Sutradara: Billie August
Diangkat dari novel dengan judul yang sama karangan Victor Hugo.
Judul novel karangan Victor Hugo ini pertama kali saya kenal bukan dari buku novelnya, melainkan dari spanduk yang terpampang besar sekali di depan gedung Festival Theater di Adelaide di awal tahun 1990an. Spanduk itu dipasang sebagai alat promosi untuk pertunjukan drama musikal dengan judul yang sama. Konon drama musikal ini telah ditonton lebih dari 40 juta orang di seluruh penjuru dunia.
Les Miserables (dibaca le miserab) berarti Kaum Tertindas memang sangat terkenal sebagai salah satu drama musikal yang paling sukses di dunia disamping yang phenomenal Phantom of the Opera. Les Miserables dalam format musikal pernah diangkat ke layar lebar. Nah yang baru saja saya tonton adalah film Les Miserables yang diadaptasi langsung dari novelnya. Jadi bukan film musikal seperti Phantom of the Opera (salah satu film yang sangat saya sukai ini akan saya ulas di lain waktu).
Film yang mulai diedarkan tahun 1998 ini dibintangi oleh Liam Neeson (Taken), Umma Thurman (Pulp Fiction, Kill Bill vol 1 dan Kill Bill vol 2) dan Claire Danes (Shakespeare’s Romeo and Juliet). Alkisah ada seorang lelaki bernama Jean Valjean. Dia dipenjara belasan tahun karena mencuri roti. Dia mencuri karena dorongan perutnya yang kelaparan. Pada masa revolusi Perancis, terdapat dua kutub yang sangat kontras yaitu keluarga kerajaan yang kaya raya, dan rakyat jelata yang miskin, bodoh dan kelaparan. Kondisi politik pada saat itu membuat para mahasiswa berontak dan mempunyai ide untuk mendirikan republik.
Sepanjang kehidupan bebasnya Jean Valjean dikejar-kejar oleh Kepala Polisi Javert. Tujuan hidup Javert adalah menegakkan aturan dan perundang-undangan at all cost! Etika, logika, dan nurani disingkirkannya. Yang penting baginya adalah menangkap orang yang melanggar hukum. Pelanggar hukum perlu dihukum sesuai dengan aturan. Apapun motivasi pelanggar hukum, mereka bersalah. Dan orang yang bersalah adalah orang jahat. Sekali penjahat tetap penjahat yang harus membayar kejahatannya. Baginya kebenaran adalah jelas sekali dan sederhana sekali. Yaitu segala sesuatu yang tertulis di kitab hukum. Pelanggar hukum harus dihukum titik!.
Saya jadi teringat cerita Ustad Yusup Mansyur tentang seseorang yang berteriak dan bersumpah akan jadi penjahat karena dia ditekan, didesak, dan digencet oleh aparat. Sementara dia hanya sekedar ingin mencari sesuap nasi. Tetapi pihak aparat menganggap dia telah melanggar aturan yang ada. Sama seperti Jean Valjean. Dia mengakui telah mencuri hanya karena perutnya lapar. Dia sudah membayar lunas dengan hukumannya. Dan dia sudah menjadi orang baik. Sudah berubah. Bahkan sudah menjadi seorang wali kota.
Tetapi di mata Polisi Javert itu Jean Valjean tetap seorang penjahat yang harus ditangkap. Setelah selama sepuluh tahun mengasingkan diri di dalam biara, Valjean akhirnya dapat ditangkap oleh Javert. Tetapi dengan pertolongan para mahasiswa Javert-lah yang akhirnya tertangkap oleh Valjean. “Apa yang kamu cari? Why don’t you just leave me alone. Saya hanya ingin menjadi rakyat biasa.” Kata Valjean kepada Javert. Tetapi bagi Javert ketidak-berhasilan menangkap Valjean adalah bukti kekalahannya. Oleh karena itu lebih baik dia mati daripada dia mengalami kekalahan. Tetapi Valjean tidak membunuhnya, walaupun ada kesempatan untuk itu. Film ini diakhiri dengan adegan yang cukup mengejutkan.
Kadang-kadang saya berpikir, banyak juga Valjean-valjean jenis lain di Indonesia ini. Sesekali saya pergi ke pasar di kaki lima pagi sekali. Saya melihat kesibukan para pedagang yang sedang melayani pembeli. Tawar menawar. Sebagian sedang mempersiapkan dagangannya. Saya melihat betapa indahnya roda ekonomi rakyat kecil. Mereka melakukan itu demi sesuap nasi. Mengumpulkan seratus dua ratus rupiah untuk menghidupi dirinya dan keluarganya dengan cara yang halal. Tetapi sering juga saya lihat di televisi bagaimana Polisi Pamong Praja mengobrak-abrik dagangan mereka. Menggusur kios mereka, yang merupakan sumber penghidupan mereka, dengan alasan keindahan dan ketertiban kota. Jeritan dan tangisan tidak mampu menghalangi langkah mereka.
Well….hidup memang tidak mudah……………………………..bagi sebagian orang.
AF
Sutradara: Billie August
Diangkat dari novel dengan judul yang sama karangan Victor Hugo.
Judul novel karangan Victor Hugo ini pertama kali saya kenal bukan dari buku novelnya, melainkan dari spanduk yang terpampang besar sekali di depan gedung Festival Theater di Adelaide di awal tahun 1990an. Spanduk itu dipasang sebagai alat promosi untuk pertunjukan drama musikal dengan judul yang sama. Konon drama musikal ini telah ditonton lebih dari 40 juta orang di seluruh penjuru dunia.
Les Miserables (dibaca le miserab) berarti Kaum Tertindas memang sangat terkenal sebagai salah satu drama musikal yang paling sukses di dunia disamping yang phenomenal Phantom of the Opera. Les Miserables dalam format musikal pernah diangkat ke layar lebar. Nah yang baru saja saya tonton adalah film Les Miserables yang diadaptasi langsung dari novelnya. Jadi bukan film musikal seperti Phantom of the Opera (salah satu film yang sangat saya sukai ini akan saya ulas di lain waktu).
Film yang mulai diedarkan tahun 1998 ini dibintangi oleh Liam Neeson (Taken), Umma Thurman (Pulp Fiction, Kill Bill vol 1 dan Kill Bill vol 2) dan Claire Danes (Shakespeare’s Romeo and Juliet). Alkisah ada seorang lelaki bernama Jean Valjean. Dia dipenjara belasan tahun karena mencuri roti. Dia mencuri karena dorongan perutnya yang kelaparan. Pada masa revolusi Perancis, terdapat dua kutub yang sangat kontras yaitu keluarga kerajaan yang kaya raya, dan rakyat jelata yang miskin, bodoh dan kelaparan. Kondisi politik pada saat itu membuat para mahasiswa berontak dan mempunyai ide untuk mendirikan republik.
Sepanjang kehidupan bebasnya Jean Valjean dikejar-kejar oleh Kepala Polisi Javert. Tujuan hidup Javert adalah menegakkan aturan dan perundang-undangan at all cost! Etika, logika, dan nurani disingkirkannya. Yang penting baginya adalah menangkap orang yang melanggar hukum. Pelanggar hukum perlu dihukum sesuai dengan aturan. Apapun motivasi pelanggar hukum, mereka bersalah. Dan orang yang bersalah adalah orang jahat. Sekali penjahat tetap penjahat yang harus membayar kejahatannya. Baginya kebenaran adalah jelas sekali dan sederhana sekali. Yaitu segala sesuatu yang tertulis di kitab hukum. Pelanggar hukum harus dihukum titik!.
Saya jadi teringat cerita Ustad Yusup Mansyur tentang seseorang yang berteriak dan bersumpah akan jadi penjahat karena dia ditekan, didesak, dan digencet oleh aparat. Sementara dia hanya sekedar ingin mencari sesuap nasi. Tetapi pihak aparat menganggap dia telah melanggar aturan yang ada. Sama seperti Jean Valjean. Dia mengakui telah mencuri hanya karena perutnya lapar. Dia sudah membayar lunas dengan hukumannya. Dan dia sudah menjadi orang baik. Sudah berubah. Bahkan sudah menjadi seorang wali kota.
Tetapi di mata Polisi Javert itu Jean Valjean tetap seorang penjahat yang harus ditangkap. Setelah selama sepuluh tahun mengasingkan diri di dalam biara, Valjean akhirnya dapat ditangkap oleh Javert. Tetapi dengan pertolongan para mahasiswa Javert-lah yang akhirnya tertangkap oleh Valjean. “Apa yang kamu cari? Why don’t you just leave me alone. Saya hanya ingin menjadi rakyat biasa.” Kata Valjean kepada Javert. Tetapi bagi Javert ketidak-berhasilan menangkap Valjean adalah bukti kekalahannya. Oleh karena itu lebih baik dia mati daripada dia mengalami kekalahan. Tetapi Valjean tidak membunuhnya, walaupun ada kesempatan untuk itu. Film ini diakhiri dengan adegan yang cukup mengejutkan.
Kadang-kadang saya berpikir, banyak juga Valjean-valjean jenis lain di Indonesia ini. Sesekali saya pergi ke pasar di kaki lima pagi sekali. Saya melihat kesibukan para pedagang yang sedang melayani pembeli. Tawar menawar. Sebagian sedang mempersiapkan dagangannya. Saya melihat betapa indahnya roda ekonomi rakyat kecil. Mereka melakukan itu demi sesuap nasi. Mengumpulkan seratus dua ratus rupiah untuk menghidupi dirinya dan keluarganya dengan cara yang halal. Tetapi sering juga saya lihat di televisi bagaimana Polisi Pamong Praja mengobrak-abrik dagangan mereka. Menggusur kios mereka, yang merupakan sumber penghidupan mereka, dengan alasan keindahan dan ketertiban kota. Jeritan dan tangisan tidak mampu menghalangi langkah mereka.
Well….hidup memang tidak mudah……………………………..bagi sebagian orang.
AF
BERANI MEMILIH
(Tulisan ini sebenarnya komentar untuk untuk tulisan “Life is about choice” pada www.vitachuya.blogspot.com. Karena terlalu panjang jadi saya muat di blog saya ini sebagai tulisan pertama)
“Andai hidup tak perlu memilih, andai manusia hanya menjalani tanpa harus memilih. Mungkin hidup ini tak akan terlalu sulit.”
Wow! itulah kesan saya sesudah membaca tulisan di atas. Ungkapan di atas seperti benar padahal kalau dipikirkan kembali, betapa boring-nya hidup ini kalau kita tidak perlu melakukan pilihan.
Hidup adalah pilihan. Saya setuju itu Vita. Hidup adalah tentang membuat pilihan. Hidup adalah memilah-milah dan memilih-milih dari sekian pilihan. Hidup adalah tentang mengambil keputusan untuk memilih A atau B. Semua orang pasti pernah mengalami suatu situasi dimana dia harus memilih. Dari yang paling sederhana, memilih menu makan siang misalnya. Memilih sepatu yang akan dibeli, memilih baju yang akan dikenakan, sampai yang lebih serius seperti memilih sekolahan, bahkan memilih pasangan hidup. Semua orang punya pilihan dan semua orang harus memilih (dengan kriteria masing2 tentunya). Ada orang yang memilih A. Ada orang yang memilih B. Tetapi tidak sedikit orang yang mengambil keputusan dengan tidak memilih keduanya. Yang jelas selama orang itu hidup dia akan dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam menjalani hidupnya.
Tetapi banyak orang yang mempunyai masalah dengan memilih. Banyak orang yang merasa tidak nyaman kalau harus memilih. Banyak orang yang merasa kesulitan untuk memilih. Banyak orang yang lebih senang keluar dari situasi harus mengambil keputusan untuk memilih. Banyak orang yang ingin lari dari situasi harus memilih.
Mengapa??
Jawabannya bisa bermacam-macam. Tetapi kalau dirangkum menjadi satu maka akan mengerucut kepada satu hal yaitu takut pilihannya salah. Takut akan akibat yang tidak menyenangkan dari pilihannya jika pilihannya itu dinilai tidak tepat alias salah. Contoh yang paling sederhana adalah mengapa sebagian besar mahasiswa Indonesia tidak mau berbicara pakai bahasa Inggris manakala situasi memungkinkan? Jawaban yang paling umum adalah “Takut salah.” Kalau kita telusuri lebih lanjut, memangnya kenapa kalau salah? Maka jawabannya adalah “Takut diketawain, jadi malu.” Jadi dari pada menanggung resiko ditertawakan temannya karena salah ucap atau salah grammar, tindakan yang paling aman adalah dengan tidak berbicara pakai bahasa Inggris sama sekali. Hal ini diperparah oleh kenyataan sepertinya urat ketawa orang Indonesia sensitif sekali. Lihat temannya jatuh tersandung, orang tertawa. Lihat temannya salah ucap, orang tertawa. Situasi inilah yang membuat mahasiswa tidak berani untuk memilih belajar berbahasa Inggris dengan cara mempraktekkannya sesering mungkin.
Ada orang yang bilang bahwa keberanian mengambil keputusan untuk memilih ada kaitannya dengan tingkat kepercayaan dirinya. Orang yang percaya-dirinya tinggi cenderung lebih berani dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, orang yang percaya-dirinya rendah selalu memerlukan bantuan, nasehat, dukungan, atau dorongan temannya dalam mengambil keputusan.
Keberanian mengambil keputusan adalah suatu keterampilan. Sama seperti keterampilan yang lain, jam terbang sangat berperan dalam rangka menguasai keterampilan ini. Semakin sering orang berani mengambil keputusan semakin piawai dia dalam memilih keputusan yang benar. Semakin sering orang berlatih piano, semakin pandai dia bermain piano. Semakin sering orang berlatih berenang, semakin pandai dia berenang. Semakin sering orang berbicara dalam bahasa Inggris, semakin fasih dia berbahasa Inggris. Dalam semua contoh-contoh tadi semakin tinggi juga rasa percaya-dirinya. Ini sih hukum alam yang tidak bisa dilanggar. Persoalannya sekarang adalah bagaimana melatih keberanian mengambil keputusan untuk memilih? Masalahnya ada pada perceived risk yang ada pada benak orang itu.
Perceived risk adalah resiko yang ada pada pandangan seseorang yang dia perkirakan akan muncul manakala dia mengambil keputusan yang salah. Apakah resiko itu pasti akan muncul? Belum tentu! Kalaupun resiko itu muncul, apakah akan sebesar yang diperkirakannya? Belum tentu! Kembali ke contoh berbahasa Inggris tadi. Resiko apa yang akan dialami oleh seorang mahasiswa yang berani berbahasa Inggris? Ditertawakan teman-temannya karena salah ucap. Apakah hal itu pasti terjadi? Belum tentu! Kalaupun hal itu terjadi, apakah si mahasiswa akan merasa malu? Mungkin ya. Apakah si mahasiswa akan mendadak menjadi bodoh? Jelas tidak. Apakah si mahasiswa akan jadi di asingkan? Jelas tidak. Apakah teman-teman akan terus mentertawakannya sepanjang hari? Jelas tidak. Apakah si mahasiswa akan mendadak jadi sakit? Jelas tidak. Jadi apa yang mesti ditakutkan?....Tidak ada! Resiko terbesar adalah ditertawakan, dan itupun kemungkinannya kecil sekali. Kalaupun ditertawakan.. So what gitu loh? Yang mentertawakanpun belum tentu bahasa Inggrisnya lebih baik. Jadi?.... Give it a shot! Saya selalu mengatakan “Just speako” (dari kata ngomongo). Jangan takut salah grammar just speako! Jika kita tidak pernah berbahasa Inggris karena takut salah, maka selamanya kita tidak akan bisa berbahasa Inggris. Jika kita tidak mau berlatih renang karena takut tenggelam, maka selamanya kita tidak akan bisa berenang. Jika kita tidak mau berlatih naik sepeda karena takut jatuh, maka selamanya kita tidak akan bisa bersepeda. Dan itu pasti!
Kembali ke masalah harus memilih. Jika kita dihadapkan harus memilih A atau B, banyak orang yang memandangnya sebagai tiga pilihan. Memilih A, memilih B, dan tidak memilih keduanya. Padahal kita dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, memilih (A atau B), dan yang kedua, tidak memilih keduanya. Tindakan yang bijak adalah dengan melakukan pilihan pertama yaitu memilih baik A ataupun B. Bukankah kita dihadapkan pada perceived risk jika kita memilih A ataupun B? Well, memilih A ataupun B adalah jauh lebih baik dibanding tidak memilih sama sekali. Kalaupun resiko itu muncul, kita bisa mengambil pelajaran darinya. Selalu akan ada hikmah dari setiap keputusan yang kita ambil. Kita tidak akan mendapat apa-apa jika kita tidak berani mengambil keputusan. Percaya-diri kita pun tidak akan meningkat jika kita berdiam diri saja. Jadi, tentukan pilihan (A atau B) dan segera ambil keputusan. Dan lihat apa yang akan terjadi. Yang pasti kita akan selalu mendapat pelajaran yang berharga dari setiap keputusan yang telah kita ambil. Dan pelajaran itulah yang akan membuat kita semakin berkembang. semakin dewasa, semakin bijak, dan semakin percaya diri.
“Lebih baik berani mengambil keputusan dan salah, daripada tidak berani mengambil keputusan karena takut salah.”
AF
“Andai hidup tak perlu memilih, andai manusia hanya menjalani tanpa harus memilih. Mungkin hidup ini tak akan terlalu sulit.”
Wow! itulah kesan saya sesudah membaca tulisan di atas. Ungkapan di atas seperti benar padahal kalau dipikirkan kembali, betapa boring-nya hidup ini kalau kita tidak perlu melakukan pilihan.
Hidup adalah pilihan. Saya setuju itu Vita. Hidup adalah tentang membuat pilihan. Hidup adalah memilah-milah dan memilih-milih dari sekian pilihan. Hidup adalah tentang mengambil keputusan untuk memilih A atau B. Semua orang pasti pernah mengalami suatu situasi dimana dia harus memilih. Dari yang paling sederhana, memilih menu makan siang misalnya. Memilih sepatu yang akan dibeli, memilih baju yang akan dikenakan, sampai yang lebih serius seperti memilih sekolahan, bahkan memilih pasangan hidup. Semua orang punya pilihan dan semua orang harus memilih (dengan kriteria masing2 tentunya). Ada orang yang memilih A. Ada orang yang memilih B. Tetapi tidak sedikit orang yang mengambil keputusan dengan tidak memilih keduanya. Yang jelas selama orang itu hidup dia akan dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam menjalani hidupnya.
Tetapi banyak orang yang mempunyai masalah dengan memilih. Banyak orang yang merasa tidak nyaman kalau harus memilih. Banyak orang yang merasa kesulitan untuk memilih. Banyak orang yang lebih senang keluar dari situasi harus mengambil keputusan untuk memilih. Banyak orang yang ingin lari dari situasi harus memilih.
Mengapa??
Jawabannya bisa bermacam-macam. Tetapi kalau dirangkum menjadi satu maka akan mengerucut kepada satu hal yaitu takut pilihannya salah. Takut akan akibat yang tidak menyenangkan dari pilihannya jika pilihannya itu dinilai tidak tepat alias salah. Contoh yang paling sederhana adalah mengapa sebagian besar mahasiswa Indonesia tidak mau berbicara pakai bahasa Inggris manakala situasi memungkinkan? Jawaban yang paling umum adalah “Takut salah.” Kalau kita telusuri lebih lanjut, memangnya kenapa kalau salah? Maka jawabannya adalah “Takut diketawain, jadi malu.” Jadi dari pada menanggung resiko ditertawakan temannya karena salah ucap atau salah grammar, tindakan yang paling aman adalah dengan tidak berbicara pakai bahasa Inggris sama sekali. Hal ini diperparah oleh kenyataan sepertinya urat ketawa orang Indonesia sensitif sekali. Lihat temannya jatuh tersandung, orang tertawa. Lihat temannya salah ucap, orang tertawa. Situasi inilah yang membuat mahasiswa tidak berani untuk memilih belajar berbahasa Inggris dengan cara mempraktekkannya sesering mungkin.
Ada orang yang bilang bahwa keberanian mengambil keputusan untuk memilih ada kaitannya dengan tingkat kepercayaan dirinya. Orang yang percaya-dirinya tinggi cenderung lebih berani dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, orang yang percaya-dirinya rendah selalu memerlukan bantuan, nasehat, dukungan, atau dorongan temannya dalam mengambil keputusan.
Keberanian mengambil keputusan adalah suatu keterampilan. Sama seperti keterampilan yang lain, jam terbang sangat berperan dalam rangka menguasai keterampilan ini. Semakin sering orang berani mengambil keputusan semakin piawai dia dalam memilih keputusan yang benar. Semakin sering orang berlatih piano, semakin pandai dia bermain piano. Semakin sering orang berlatih berenang, semakin pandai dia berenang. Semakin sering orang berbicara dalam bahasa Inggris, semakin fasih dia berbahasa Inggris. Dalam semua contoh-contoh tadi semakin tinggi juga rasa percaya-dirinya. Ini sih hukum alam yang tidak bisa dilanggar. Persoalannya sekarang adalah bagaimana melatih keberanian mengambil keputusan untuk memilih? Masalahnya ada pada perceived risk yang ada pada benak orang itu.
Perceived risk adalah resiko yang ada pada pandangan seseorang yang dia perkirakan akan muncul manakala dia mengambil keputusan yang salah. Apakah resiko itu pasti akan muncul? Belum tentu! Kalaupun resiko itu muncul, apakah akan sebesar yang diperkirakannya? Belum tentu! Kembali ke contoh berbahasa Inggris tadi. Resiko apa yang akan dialami oleh seorang mahasiswa yang berani berbahasa Inggris? Ditertawakan teman-temannya karena salah ucap. Apakah hal itu pasti terjadi? Belum tentu! Kalaupun hal itu terjadi, apakah si mahasiswa akan merasa malu? Mungkin ya. Apakah si mahasiswa akan mendadak menjadi bodoh? Jelas tidak. Apakah si mahasiswa akan jadi di asingkan? Jelas tidak. Apakah teman-teman akan terus mentertawakannya sepanjang hari? Jelas tidak. Apakah si mahasiswa akan mendadak jadi sakit? Jelas tidak. Jadi apa yang mesti ditakutkan?....Tidak ada! Resiko terbesar adalah ditertawakan, dan itupun kemungkinannya kecil sekali. Kalaupun ditertawakan.. So what gitu loh? Yang mentertawakanpun belum tentu bahasa Inggrisnya lebih baik. Jadi?.... Give it a shot! Saya selalu mengatakan “Just speako” (dari kata ngomongo). Jangan takut salah grammar just speako! Jika kita tidak pernah berbahasa Inggris karena takut salah, maka selamanya kita tidak akan bisa berbahasa Inggris. Jika kita tidak mau berlatih renang karena takut tenggelam, maka selamanya kita tidak akan bisa berenang. Jika kita tidak mau berlatih naik sepeda karena takut jatuh, maka selamanya kita tidak akan bisa bersepeda. Dan itu pasti!
Kembali ke masalah harus memilih. Jika kita dihadapkan harus memilih A atau B, banyak orang yang memandangnya sebagai tiga pilihan. Memilih A, memilih B, dan tidak memilih keduanya. Padahal kita dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, memilih (A atau B), dan yang kedua, tidak memilih keduanya. Tindakan yang bijak adalah dengan melakukan pilihan pertama yaitu memilih baik A ataupun B. Bukankah kita dihadapkan pada perceived risk jika kita memilih A ataupun B? Well, memilih A ataupun B adalah jauh lebih baik dibanding tidak memilih sama sekali. Kalaupun resiko itu muncul, kita bisa mengambil pelajaran darinya. Selalu akan ada hikmah dari setiap keputusan yang kita ambil. Kita tidak akan mendapat apa-apa jika kita tidak berani mengambil keputusan. Percaya-diri kita pun tidak akan meningkat jika kita berdiam diri saja. Jadi, tentukan pilihan (A atau B) dan segera ambil keputusan. Dan lihat apa yang akan terjadi. Yang pasti kita akan selalu mendapat pelajaran yang berharga dari setiap keputusan yang telah kita ambil. Dan pelajaran itulah yang akan membuat kita semakin berkembang. semakin dewasa, semakin bijak, dan semakin percaya diri.
“Lebih baik berani mengambil keputusan dan salah, daripada tidak berani mengambil keputusan karena takut salah.”
AF
Langganan:
Postingan (Atom)