Ini juga saya pindahkan dari blog FS saya. Bagi yang pernah baca isinya sama persis.
A Thousand Splendid Suns
Khaled Hosseini
Qanita
Beberapa waktu yang lalu, sepulang makan siang. Saya melewati gedung pendopo Polban yang sedang ramai dengan acara Career Day. Di depan pendopo itu ada stand buku murah. Tadinya saya hanya ingin melihat-lihat saja. Tapi mata saya menangkap cover buku yang rasanya pernah saya lihat. Kalau tidak salah saya pernah lihat di harian Kompas di seksi resensi buku. Buku itu berjudul A Thousand Splendid Suns karangan Khaled Hosseini. Setelah mengetahui ada diskon, singkat cerita impulse buying take place again. Saya membacanya beberapa bab dalam sehari. Semakin dibaca semakin sulit untuk menghentikannya. Terutama di seperempat bagian akhir buku itu. Sangat mendebarkan! Inilah ulasannya.
Apa yang kita ketahui tentang Afganistan? Tidak banyak saya kira. Paling-paling kita membayangkan negeri yang porak-poranda diobrak-abrik oleh pasukan Amerika sewaktu mereka mencari Osama Bin Laden, yang sampai sekarang tidak pernah ketemu. Negara Afganistan memang negara yang sangat malang. Setelah dikuasai oleh Uni Soviet selama sepuluh tahun, negeri ini dicabik-cabik oleh perang saudara sesama warga Afganistan dari berbagai faksi Mujahidin yang berbeda. Sampai akhirnya kelompok Taliban berkuasa dalam waktu yang cukup singkat. Taliban diusir dari kekuasaannya oleh pasukan Amerika setelah peristiwa 9/11.
Buku ini tidak berbicara mengenai sejarah kekuasaan di Afganistan, melainkan bercerita tentang dua orang wanita yang hidup pada masa Afganistan masih berstatus kerajaan sampai sekarang. Masa Afganistan telah memiliki pemerintahan sendiri yang disokong oleh pasukan Amerika.
Buku ini diawali dengan menceritakan kehidupan seorang anak perempuan bernama Mariam. Kualitas kehidupan anak ini dapat tercermin dari perkataan ibunya yang menghardiknya manakala dia memecahkan mangkuk cina mungil peninggalan neneknya. “Dasar harami kecil ceroboh. Inilah ganjaran yang kudapat setelah hidup sengsara. Harami kecil ceroboh yang menghancurkan warisanku.” Ketika itu, Mariam tidak mengerti. Dia tidak tahu makna harami-anak haram. Dan, dia juga belum cukup besar untuk memahami ketidakadilan, untuk melihat bahwa para pencipta harami-lah yang seharusnya disalahkan, bukan harami yang berdosa hanya karena dilahirkan ke dunia. Nanti nya, ketika dia sudah besar, Mariam baru mengerti bahwa harami adalah anak yang tidak diinginkan, tidak akan pernah mendapat hak seperti anak lain. Tidak akan mendapatkan cinta, keluarga, rumah tangga, dan penerimaan.
Mariam hidup dengan ibunya yang selalu menumpahkan kemarahan dan kekesalan akan nasibnya pada Mariam. Ibunya, biasa dipanggil Nana, adalah seorang pembantu rumah tangga yang dihamili majikannya yang telah memiliki istri sah tiga orang. Setelah diancam oleh ipar-iparnya maka Jalil, majikan itu, mengusir Nana dari rumahnya. Kehidupan yang sebenarnya bagi Nana dan Mariam selalu dimulai pagi hari di Kolba (rumah kecil dari lumpur dan jerami dan beratap datar) yang dibuatkan oleh jalil untuk mereka sebagai penebus rasa bersalahnya.
Kehidupan Mariam semakin carut marut mana kala Ibunya meninggal. Mariam tidak diterima di rumah Jalil dan dipaksa kawin dengan duda tua dari Kabul sewaktu dia berumur 15 tahun ( yang di Semarang lebih muda 3 tahun dari dia :) ).
Membaca kehidupan perkawinannya membuat jantung kita seperti diaduk-aduk. Haruskah seorang manusia yang kebetulan berjenis kelamin perempuan diperlakukan seperti ini? Pertanyaan itulah yang ada dalam benak saya sambil tak bisa lepas dari halaman2 buku ini. Lalu apa arti perkawinan itu sendiri? Kebodohan, kemiskinan, ketakutan, ketidak-berdayaan, ketergantungan, sistem nilai di masyarakat, perang saudara, ego laki-laki dan lain-lain turut mempengaruhi mengapa seorang wanita mau tinggal dan tetap tinggal di dalam neraka perkawinannya yang telah merenggut masa mudanya.
Bangun pagi, masak, membersihkan rumah, kesetiaan, pengabdian, pengabdian, dan pengabdian setiap bulan dalam setahun, setiap minggu dalam sebulan, setiap hari dalam seminggu, dan setiap jam dalam sehari menjadi tidak ada artinya manakala dia tidak bisa memberikan keturunan. Cerita tidak berhenti di sini, tapi masih panjang dan berliku. Dijamin mengaduk-aduk emosi pembacanya. Terasa sekali, buku ini sangat memberi pengaruh kepada para pembacanya. Yang jelas pembacanya diperkaya dengan perenungan, wawasan, dan kekaguman akan keteguhan cinta dan kekuatan harapan.
Saya memuji pengarangnya Khaled Hosseini, seorang Afgan yang hidup di Amerika. Kepiawaian pengarangnya sangat terasa terutama dalam menggambarkan kejadian yang begitu terperinci. Pemilihan kata yang brilian sehingga menimbulkan emosi yang tepat.
Suasana politik Afganistan juga diceritakan sebagai latar belakang yang mempengaruhi seluruh sendi kehidupan warga kota Kabul.
Novel ini adalah novel kedua yang ditulis pengarangnya. Novel pertamanya lebih menghebohkan lagi. Judulnya The Kite Runner. Telah terjual lebih dari 8 juta kopi. Diterjemahkan ke dalam 42 bahasa. dan telah difilmkan oleh Paramount Pictures (saya sudah nonton dvd-nya. Kesimpulan: lebih baik baca bukunya!). Berkat novel The Kite Runner ini, yang berlatar belakang persahabatan, kemanusiaan, dan universalisme, Khaled Husseini menerima Humanitarian Award 2006 dari UNHCR.
Kamis, 01 Januari 2009
Buku: The Naked Traveler
Ulasan ini juga saya pindahkan dari blog FS saya. So isinya sama persis.
Judul: The Naked Traveler
Penulis: Trinity
C│Publishing
Sehabis melalap The Girls of Riyadh disela-sela waktu kerja, saya “menggauli” The Naked Traveler setiap sebelum tidur. Hasilnya dalam dua hari selesai sudah kegiatan itu.
The Naked Traveler bukan novel tapi catatan perjalanan yang ditulis oleh seorang wanita Indonesia yang hobi melakukan perjalanan (traveling) sebagai backpacker. Buku ini tidak bercerita tentang indahnya pemandangan di tempat-tempat wisata yang dikunjungi. Buku ini berisi tulisan bukan tentang apa yang dilihat penulis melainkan apa yang dirasakan penulis. Penulis terasa sekali kejujurannya dalam mengungkapkan pengalamannya. Terlebih apa yang dirasakannya. Membaca buku ini akan membangkitkan mimpi sebagian besar orang yaitu bisa traveling ke berbagai penjuru dunia. Terutama ke wilayah-wilayah yang tidak biasa dikunjungi turis.
Pembaca akan merasa kagum dengan penulis mengingat dia sering melakukan perjalanan seorang diri. Trinity telah mengajak kita untuk berani melakukan perjalanan seorang diri walaupun anda seorang wanita muda.
Penuh petualangan, kadang lucu, senang, sedih, bahkan menjengkelkan. Pengalamannya dapat dijadikan petunjuk bagi pembaca yang akan mengunjungi tempat-tempat yang pernah dikunjunginya.Beberapa tempat yang diceritakannya kebetulan pernah juga saya kunjungi. Jadinya mengingatkan saya akan tempat-tempat itu. Dan hasrat untuk melakukan traveling kembali berkobar. Kendalanya hanya satu. Yaitu faktor M.
Salah satu tulisannya yang menarik adalah bagaimana orang Filipina juga suka terbalik dalam mengucapkan huruf p menjadi f, dan huruf f diucapkan sebagai p. Seperti sebagian orang Sundalah dalam mengucapkan Panta, Pespa, Rafat dsb, tapi yang ini lebih farah eh parah.
Ada juga dia mencoba iseng-iseng menganalisa orang dengan main fisik. Cowok paling cakep di dunia adalah cowok Italia, cewek paling cantik cewek Perancis (setuju 100%), negara yang cowok ceweknya cakep cakep adalah Puerto Rico. Cowoknya kayak Ricky Martin semua dan ceweknya kayak J Lo semua. Etnis Asia yang susah dibedakan dari ciri fisiknya adalah Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Filipina.
Nah cowok terjelek di dunia menurut dia adalah cowok asli Brunei. Mereka tidak punya manner, dan yang berumur 25-35 pun kayak bapak-bapak. Semua dengan rambut licin berminyak dan kemeja lengan panjang dimasukan ke celana bahan yang garis pinggangnya tinggi bak Jojon! Dia berkesimpulan Sultan Bolkiah adalah satu-satunya cowok yang paling cakep di Brunei.
Bacaan bagus, ringan, dan yang pasti akan men-trigger semangat (mimpi) bertualang bagi para pembacanya. Paling tidak iri sama penulisnya yang telah melanglang buana ke berbagai tempat di dalam dan di luar negeri.
Dari cara menulisnya yang terkesan seenaknya, sebetulnya buku ini dapat menginspirasi kaum muda untuk berani menuliskan pengalamannya dalam satu tulisan yang singkat dan menayangkanya di blog pribadi mereka. Pengalaman apa saja yang di temuinya. Hitung-hitung sebagai latihan menulis.
So guys, write what you have done, seen, and been.
Judul: The Naked Traveler
Penulis: Trinity
C│Publishing
Sehabis melalap The Girls of Riyadh disela-sela waktu kerja, saya “menggauli” The Naked Traveler setiap sebelum tidur. Hasilnya dalam dua hari selesai sudah kegiatan itu.
The Naked Traveler bukan novel tapi catatan perjalanan yang ditulis oleh seorang wanita Indonesia yang hobi melakukan perjalanan (traveling) sebagai backpacker. Buku ini tidak bercerita tentang indahnya pemandangan di tempat-tempat wisata yang dikunjungi. Buku ini berisi tulisan bukan tentang apa yang dilihat penulis melainkan apa yang dirasakan penulis. Penulis terasa sekali kejujurannya dalam mengungkapkan pengalamannya. Terlebih apa yang dirasakannya. Membaca buku ini akan membangkitkan mimpi sebagian besar orang yaitu bisa traveling ke berbagai penjuru dunia. Terutama ke wilayah-wilayah yang tidak biasa dikunjungi turis.
Pembaca akan merasa kagum dengan penulis mengingat dia sering melakukan perjalanan seorang diri. Trinity telah mengajak kita untuk berani melakukan perjalanan seorang diri walaupun anda seorang wanita muda.
Penuh petualangan, kadang lucu, senang, sedih, bahkan menjengkelkan. Pengalamannya dapat dijadikan petunjuk bagi pembaca yang akan mengunjungi tempat-tempat yang pernah dikunjunginya.Beberapa tempat yang diceritakannya kebetulan pernah juga saya kunjungi. Jadinya mengingatkan saya akan tempat-tempat itu. Dan hasrat untuk melakukan traveling kembali berkobar. Kendalanya hanya satu. Yaitu faktor M.
Salah satu tulisannya yang menarik adalah bagaimana orang Filipina juga suka terbalik dalam mengucapkan huruf p menjadi f, dan huruf f diucapkan sebagai p. Seperti sebagian orang Sundalah dalam mengucapkan Panta, Pespa, Rafat dsb, tapi yang ini lebih farah eh parah.
Ada juga dia mencoba iseng-iseng menganalisa orang dengan main fisik. Cowok paling cakep di dunia adalah cowok Italia, cewek paling cantik cewek Perancis (setuju 100%), negara yang cowok ceweknya cakep cakep adalah Puerto Rico. Cowoknya kayak Ricky Martin semua dan ceweknya kayak J Lo semua. Etnis Asia yang susah dibedakan dari ciri fisiknya adalah Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Filipina.
Nah cowok terjelek di dunia menurut dia adalah cowok asli Brunei. Mereka tidak punya manner, dan yang berumur 25-35 pun kayak bapak-bapak. Semua dengan rambut licin berminyak dan kemeja lengan panjang dimasukan ke celana bahan yang garis pinggangnya tinggi bak Jojon! Dia berkesimpulan Sultan Bolkiah adalah satu-satunya cowok yang paling cakep di Brunei.
Bacaan bagus, ringan, dan yang pasti akan men-trigger semangat (mimpi) bertualang bagi para pembacanya. Paling tidak iri sama penulisnya yang telah melanglang buana ke berbagai tempat di dalam dan di luar negeri.
Dari cara menulisnya yang terkesan seenaknya, sebetulnya buku ini dapat menginspirasi kaum muda untuk berani menuliskan pengalamannya dalam satu tulisan yang singkat dan menayangkanya di blog pribadi mereka. Pengalaman apa saja yang di temuinya. Hitung-hitung sebagai latihan menulis.
So guys, write what you have done, seen, and been.
Buku: The Girls of Riyadh
Tulisan ini saya pindahkan dari blog FS saya. Jadi bagi yang pernah baca jangan heran isinya sama persis.
The Girls of Riyadh
Rajaa Al Sanea
408 halaman
Rp. 47.000,-
Hari pertama libur Lebaran saya membaca resensi sebuah novel di harian Kompas. Setelah saya baca timbul keinginan saya untuk membaca novelnya. Pas jalan2 ke Gramedia dalam rangka mengiri libur Lebaran, saya comot dua buku yang ringan yaitu The Girls of Riyadh (novel yang resensinya saya baca) dan buku The Naked Traveler (ini mah impulse buying). Keduanya sudah tamat saya. Sekarang saya mau nulis tentang The Girls of Riyadh dulu. Buku The Naked Traveler akan saya bahas nanti.
Novel ini adalah novel pertama yang ditulis oleh seorang gadis Saudi Arabia yang baru berusia 22 tahun! Rajaa Al Sanea. Tidak seperti novel biasanya. Novel ini bercerita tentang empat orang gadis Saudi dari kalangan atas yang diceritakan melalui email yang dikirimkan ke suatu milis setiap Jumat siang. Ternyata email2 yang dikirimkan setiap minggu itu mendapat sambutan yang sangat besar dari masyarakat Saudi. Mereka selalu membicarakannya setiap hari Sabtu di sekolah2, kampus2, kantor2, dll.
Reaksi yang begitu besar terhadap cerita bersambung itu lebih dikarenakan email2 itu dianggap telah menghina tradisi dalam masyarakat Saudi yang selama ini sangat tertutup. Di awal novel ini si penulis sudah mengejutkan pembaca dengan mengambarkan kalangan atas Saudi dimana para gadis minum Champagne, berpakaian seperti pria, dan berpacaran dengan cowok di negara dimana perempuan dilarang memiliki SIM, apalagi bercampur baur dengan lawan jenis di tempat umum.
Dalam wawancara dengan majalah Asharq Al-Awsat, Al Sanea ditanya apakah dia tidak takut mendapat serangan dari berbagai pihak atas keberaniannya menggambarkan kehidupan yang sebenarnya dari kaum wanita Saudi. Dia menjawab:”I was expecting to be criticized and I included that in the introduction of each letter. Differences in opinions should open the door for dialogue and not aggression. We suffer from an inability to accept rival opinions. Deciding whether to support or condemn a certain point of view requires courage and self-confidence. The majority know that I describe real events but certain groups have attacked me. Strangely, a number of individuals who criticized the novel admit they have yet read it!” Jelas ini adalah jawaban yang sangat berbobot dari seorang penulis muda yang berusia 22 tahun. Two thumbs-up buat dia.
Salah satu gadis yang diceritakan dalam novel itu adalah Michelle. Michelle berayah Arab Saudi dan beribu Amerika. Dia tokoh yang paling vokal dalam menyuarakan kritikannya terhadap persepsi orang Saudi dalam memandang bagaimana hukum Syariah semestinya dijalankan. Akibatnya si penulis dikecam oleh berbagai kalangan. Al Sanea sendiri dalam koran Egypt Today mengatakan bahwa novelnya mengandung kritik terhadap tradisi dan bukannya terhadap hukum Syariah dengan mengatakan: ”I respect my religion. I am a faithful Muslim and proud of it. Shariah is an important part of Islam that should be respected,” Lalu Al Sanea melanjutkan, “but there is confusion here. What the novel speaks about are traditions that are not part of our Shariah and have simply hampered our way of life to the point that they have resulted in the misery and suffering of people in our society.”
Ketika dia dituduh telah melanggar garis yang seharusnya tidak dilewati dia bilang: ”What I crossed were merely social taboos, not religious ones. This is a very important clarification. There is a difference between time-honored traditions that cannot survive our modern time and those eternal values upheld by religion.”
Anyway, novel ini sebenarnya novel percintaan dari empat mahasiswi Arab Saudi yang berdomisili di kota Riyadh. Novel ini dihiasi dengan kutipan2 puisi dari tokoh2 besar. Sayang penerjemahannya ke dalam bahasa Indonesia mengakibatkan “rasa” dari puisi2 itu jadi tidak se indah jika ditulis pakai bahasa aslinya. Seandainya saya bisa bahasa Arab, wah kebayang indahnya puisi2 itu (Menurut saya perkosaan yang paling jahat adalah pen-dubbing-an suatu film dari bahasa aslinya ke dalam bahasa lain). Dalam kehidupan percintaannya keempat gadis itu memiliki perjalanan yang berbeda-beda. Tetapi semuanya memiliki mimpi yang sama yaitu menunggu untuk menemukan “Mr Right.” Dari keempat tokoh itu hanya tokoh Shedim yang akhirnya mengerti dan memahami ungkapan “Terimalah pria yang mencintaimu, jangan kejar pria yang kau cintai.”
Well, akhir kata, novel ini sangat memberi pencerahan terutama bagi para wanita muda yang mempunyai mimpi untuk mendapatkan “Mr Right.” Dan juga memperluas wawasan pembacanya terhadap budaya lain yang selama ini kurang diketahui oleh masyarakat luar. Dan saya sangat terkagum-kagum sama kepintaran penulisnya Rajaa Al Sanea.
Mana geulis lagi.
The Girls of Riyadh
Rajaa Al Sanea
408 halaman
Rp. 47.000,-
Hari pertama libur Lebaran saya membaca resensi sebuah novel di harian Kompas. Setelah saya baca timbul keinginan saya untuk membaca novelnya. Pas jalan2 ke Gramedia dalam rangka mengiri libur Lebaran, saya comot dua buku yang ringan yaitu The Girls of Riyadh (novel yang resensinya saya baca) dan buku The Naked Traveler (ini mah impulse buying). Keduanya sudah tamat saya. Sekarang saya mau nulis tentang The Girls of Riyadh dulu. Buku The Naked Traveler akan saya bahas nanti.
Novel ini adalah novel pertama yang ditulis oleh seorang gadis Saudi Arabia yang baru berusia 22 tahun! Rajaa Al Sanea. Tidak seperti novel biasanya. Novel ini bercerita tentang empat orang gadis Saudi dari kalangan atas yang diceritakan melalui email yang dikirimkan ke suatu milis setiap Jumat siang. Ternyata email2 yang dikirimkan setiap minggu itu mendapat sambutan yang sangat besar dari masyarakat Saudi. Mereka selalu membicarakannya setiap hari Sabtu di sekolah2, kampus2, kantor2, dll.
Reaksi yang begitu besar terhadap cerita bersambung itu lebih dikarenakan email2 itu dianggap telah menghina tradisi dalam masyarakat Saudi yang selama ini sangat tertutup. Di awal novel ini si penulis sudah mengejutkan pembaca dengan mengambarkan kalangan atas Saudi dimana para gadis minum Champagne, berpakaian seperti pria, dan berpacaran dengan cowok di negara dimana perempuan dilarang memiliki SIM, apalagi bercampur baur dengan lawan jenis di tempat umum.
Dalam wawancara dengan majalah Asharq Al-Awsat, Al Sanea ditanya apakah dia tidak takut mendapat serangan dari berbagai pihak atas keberaniannya menggambarkan kehidupan yang sebenarnya dari kaum wanita Saudi. Dia menjawab:”I was expecting to be criticized and I included that in the introduction of each letter. Differences in opinions should open the door for dialogue and not aggression. We suffer from an inability to accept rival opinions. Deciding whether to support or condemn a certain point of view requires courage and self-confidence. The majority know that I describe real events but certain groups have attacked me. Strangely, a number of individuals who criticized the novel admit they have yet read it!” Jelas ini adalah jawaban yang sangat berbobot dari seorang penulis muda yang berusia 22 tahun. Two thumbs-up buat dia.
Salah satu gadis yang diceritakan dalam novel itu adalah Michelle. Michelle berayah Arab Saudi dan beribu Amerika. Dia tokoh yang paling vokal dalam menyuarakan kritikannya terhadap persepsi orang Saudi dalam memandang bagaimana hukum Syariah semestinya dijalankan. Akibatnya si penulis dikecam oleh berbagai kalangan. Al Sanea sendiri dalam koran Egypt Today mengatakan bahwa novelnya mengandung kritik terhadap tradisi dan bukannya terhadap hukum Syariah dengan mengatakan: ”I respect my religion. I am a faithful Muslim and proud of it. Shariah is an important part of Islam that should be respected,” Lalu Al Sanea melanjutkan, “but there is confusion here. What the novel speaks about are traditions that are not part of our Shariah and have simply hampered our way of life to the point that they have resulted in the misery and suffering of people in our society.”
Ketika dia dituduh telah melanggar garis yang seharusnya tidak dilewati dia bilang: ”What I crossed were merely social taboos, not religious ones. This is a very important clarification. There is a difference between time-honored traditions that cannot survive our modern time and those eternal values upheld by religion.”
Anyway, novel ini sebenarnya novel percintaan dari empat mahasiswi Arab Saudi yang berdomisili di kota Riyadh. Novel ini dihiasi dengan kutipan2 puisi dari tokoh2 besar. Sayang penerjemahannya ke dalam bahasa Indonesia mengakibatkan “rasa” dari puisi2 itu jadi tidak se indah jika ditulis pakai bahasa aslinya. Seandainya saya bisa bahasa Arab, wah kebayang indahnya puisi2 itu (Menurut saya perkosaan yang paling jahat adalah pen-dubbing-an suatu film dari bahasa aslinya ke dalam bahasa lain). Dalam kehidupan percintaannya keempat gadis itu memiliki perjalanan yang berbeda-beda. Tetapi semuanya memiliki mimpi yang sama yaitu menunggu untuk menemukan “Mr Right.” Dari keempat tokoh itu hanya tokoh Shedim yang akhirnya mengerti dan memahami ungkapan “Terimalah pria yang mencintaimu, jangan kejar pria yang kau cintai.”
Well, akhir kata, novel ini sangat memberi pencerahan terutama bagi para wanita muda yang mempunyai mimpi untuk mendapatkan “Mr Right.” Dan juga memperluas wawasan pembacanya terhadap budaya lain yang selama ini kurang diketahui oleh masyarakat luar. Dan saya sangat terkagum-kagum sama kepintaran penulisnya Rajaa Al Sanea.
Mana geulis lagi.
MILLION DOLLAR BABY
Judul: Million Dollar Baby
Sutradara: Clint Eastwood
Pemain: Clint Eastwood; Morgan Freeman; Hilary Swank
Film ini sebenarnya mulai diedarkan pada tahun 2004 dan mendapat piala Oscar (Academy Award) 2005 untuk kategori film terbaik, sutradara terbaik (Clint Eastwood), peran wanita terbaik (Hilary Swank), dan peran pembantu pria terbaik (Morgan Freeman). Menurut saya kekuatan dari film ini berpusat bukan pada sutradara dan para pemainnya yang sangat prima tetapi pada ceritanya yang sangat (istilah saya) ‘powerful’. Setelah saya tonton lagi, saya jadi ingin menuliskan ulasan mengenai film ini.
Maggie Fitzgerald (Hilary Swank) adalah seorang wanita yang sudah tidak muda lagi (31 tahun) untuk mulai berlatih tinju. Datang dari latar belakang keluarga yang miskin dan berantakan, dia menjadi pelayan restoran sejak usia 13 tahun. Di dalam hatinya ada sebuah mimpi yang membuat dia terus bertahan berlatih tinju walaupun ditolak mentah-mentah oleh Frankie (Clint Eastwood), seorang pelatih tinju kawakan yang sudah tua dan telah menghasilkan juara dunia. Bukan hanya karena Maggie sudah terlalu tua untuk mulai berlatih untuk menjadi seorang petinju profesional, terlebih karena dia seorang perempuan. Dan Frankie tidak mau melatih seorang perempuan. Bagi Maggie bisa saja dia membeli kereta dorong bekas lengkap dengan kompornya lalu berjualan burger dan kentang goreng. Tetapi “the problem is, this is (bertinju) the only thing I ever felt good doing.” Kegigihan dan sifat pantang menyerah Maggie-lah (“I want a trainer. I don’t want charity, and I don’t want favors”) yang membuat Frankie akhirnya (dengan berat hati) mau melatih Maggie.
Frankie pemilik sekaligus pelatih di Hit Pit Gym mempunyai masalah komunikasi dengan anak perempuannya Kathy, serta mempunyai masalah dengan keyakinannya terhadap ajaran gereja Katolik, walaupun begitu dia selalu pergi ke gereja setiap hari. Dibantu oleh seorang caretaker, Scrap, Frankie menjalankan bisnis pelatihan tinju dengan sepenuh hati. Setelah ditinggalkan salah seorang petinju kesayangannya, Frankie sedikit demi sedikit mulai melatih Maggie dengan intens. Sedikit demi sedikit juga kebekuan hatinya mulai mencair dengan hadirnya Maggie, sementara Kathy, anaknya, sudah tidak diketahui lagi tempat tinggalnya.
Dengan memberi perhatian seperti seorang ayah, Frankie, akhirnya dapat mengantarkan Maggie menjadi seorang petinju profesional yang sangat disegani lawan-lawannya. Frankie, bahkan dapat mewujudkan impian Maggie untuk memperoleh kesempatan bertanding dalam perebutan gelar juara dunia.
Walaupun film ini berbicara tentang dunia tinju, penuh dengan adegan pertandingan tinju. Tetapi sebenarnya film bukan film tinju. Ini film tentang kegigihan, pantang menyerah, dan keyakinan pada impian yang akan diraih. Ini film tentang hubungan antar manusia yang mencari keluarga, dimana keluarga biologis kadang-kadang dirasakan bukan keluarga yang sebenarnya. Ini film tentang perhatian seorang ayah kepada anak perempuannya.
Hanya sedikit film yang setelah saya tonton, sehari dua hari kemudian ceritanya masih membekas dengan jelas, bahkan masih mengganggu pikiran saya. Film ini salah satunya. Itu sebabnya saya suka sekali film ini. Watch it, it’s remarkable!
nb: copy yang saya tonton text bahasa Indonesianya amit-amit payahnya. Jadi pakai saja text bahasa Inggrisnya.
Sutradara: Clint Eastwood
Pemain: Clint Eastwood; Morgan Freeman; Hilary Swank
Film ini sebenarnya mulai diedarkan pada tahun 2004 dan mendapat piala Oscar (Academy Award) 2005 untuk kategori film terbaik, sutradara terbaik (Clint Eastwood), peran wanita terbaik (Hilary Swank), dan peran pembantu pria terbaik (Morgan Freeman). Menurut saya kekuatan dari film ini berpusat bukan pada sutradara dan para pemainnya yang sangat prima tetapi pada ceritanya yang sangat (istilah saya) ‘powerful’. Setelah saya tonton lagi, saya jadi ingin menuliskan ulasan mengenai film ini.
Maggie Fitzgerald (Hilary Swank) adalah seorang wanita yang sudah tidak muda lagi (31 tahun) untuk mulai berlatih tinju. Datang dari latar belakang keluarga yang miskin dan berantakan, dia menjadi pelayan restoran sejak usia 13 tahun. Di dalam hatinya ada sebuah mimpi yang membuat dia terus bertahan berlatih tinju walaupun ditolak mentah-mentah oleh Frankie (Clint Eastwood), seorang pelatih tinju kawakan yang sudah tua dan telah menghasilkan juara dunia. Bukan hanya karena Maggie sudah terlalu tua untuk mulai berlatih untuk menjadi seorang petinju profesional, terlebih karena dia seorang perempuan. Dan Frankie tidak mau melatih seorang perempuan. Bagi Maggie bisa saja dia membeli kereta dorong bekas lengkap dengan kompornya lalu berjualan burger dan kentang goreng. Tetapi “the problem is, this is (bertinju) the only thing I ever felt good doing.” Kegigihan dan sifat pantang menyerah Maggie-lah (“I want a trainer. I don’t want charity, and I don’t want favors”) yang membuat Frankie akhirnya (dengan berat hati) mau melatih Maggie.
Frankie pemilik sekaligus pelatih di Hit Pit Gym mempunyai masalah komunikasi dengan anak perempuannya Kathy, serta mempunyai masalah dengan keyakinannya terhadap ajaran gereja Katolik, walaupun begitu dia selalu pergi ke gereja setiap hari. Dibantu oleh seorang caretaker, Scrap, Frankie menjalankan bisnis pelatihan tinju dengan sepenuh hati. Setelah ditinggalkan salah seorang petinju kesayangannya, Frankie sedikit demi sedikit mulai melatih Maggie dengan intens. Sedikit demi sedikit juga kebekuan hatinya mulai mencair dengan hadirnya Maggie, sementara Kathy, anaknya, sudah tidak diketahui lagi tempat tinggalnya.
Dengan memberi perhatian seperti seorang ayah, Frankie, akhirnya dapat mengantarkan Maggie menjadi seorang petinju profesional yang sangat disegani lawan-lawannya. Frankie, bahkan dapat mewujudkan impian Maggie untuk memperoleh kesempatan bertanding dalam perebutan gelar juara dunia.
Walaupun film ini berbicara tentang dunia tinju, penuh dengan adegan pertandingan tinju. Tetapi sebenarnya film bukan film tinju. Ini film tentang kegigihan, pantang menyerah, dan keyakinan pada impian yang akan diraih. Ini film tentang hubungan antar manusia yang mencari keluarga, dimana keluarga biologis kadang-kadang dirasakan bukan keluarga yang sebenarnya. Ini film tentang perhatian seorang ayah kepada anak perempuannya.
Hanya sedikit film yang setelah saya tonton, sehari dua hari kemudian ceritanya masih membekas dengan jelas, bahkan masih mengganggu pikiran saya. Film ini salah satunya. Itu sebabnya saya suka sekali film ini. Watch it, it’s remarkable!
nb: copy yang saya tonton text bahasa Indonesianya amit-amit payahnya. Jadi pakai saja text bahasa Inggrisnya.
Langganan:
Postingan (Atom)