Kamis, 01 Januari 2009

Buku: A Thousands Splendid Suns

Ini juga saya pindahkan dari blog FS saya. Bagi yang pernah baca isinya sama persis.

A Thousand Splendid Suns
Khaled Hosseini
Qanita

Beberapa waktu yang lalu, sepulang makan siang. Saya melewati gedung pendopo Polban yang sedang ramai dengan acara Career Day. Di depan pendopo itu ada stand buku murah. Tadinya saya hanya ingin melihat-lihat saja. Tapi mata saya menangkap cover buku yang rasanya pernah saya lihat. Kalau tidak salah saya pernah lihat di harian Kompas di seksi resensi buku. Buku itu berjudul A Thousand Splendid Suns karangan Khaled Hosseini. Setelah mengetahui ada diskon, singkat cerita impulse buying take place again. Saya membacanya beberapa bab dalam sehari. Semakin dibaca semakin sulit untuk menghentikannya. Terutama di seperempat bagian akhir buku itu. Sangat mendebarkan! Inilah ulasannya.

Apa yang kita ketahui tentang Afganistan? Tidak banyak saya kira. Paling-paling kita membayangkan negeri yang porak-poranda diobrak-abrik oleh pasukan Amerika sewaktu mereka mencari Osama Bin Laden, yang sampai sekarang tidak pernah ketemu. Negara Afganistan memang negara yang sangat malang. Setelah dikuasai oleh Uni Soviet selama sepuluh tahun, negeri ini dicabik-cabik oleh perang saudara sesama warga Afganistan dari berbagai faksi Mujahidin yang berbeda. Sampai akhirnya kelompok Taliban berkuasa dalam waktu yang cukup singkat. Taliban diusir dari kekuasaannya oleh pasukan Amerika setelah peristiwa 9/11.

Buku ini tidak berbicara mengenai sejarah kekuasaan di Afganistan, melainkan bercerita tentang dua orang wanita yang hidup pada masa Afganistan masih berstatus kerajaan sampai sekarang. Masa Afganistan telah memiliki pemerintahan sendiri yang disokong oleh pasukan Amerika.

Buku ini diawali dengan menceritakan kehidupan seorang anak perempuan bernama Mariam. Kualitas kehidupan anak ini dapat tercermin dari perkataan ibunya yang menghardiknya manakala dia memecahkan mangkuk cina mungil peninggalan neneknya. “Dasar harami kecil ceroboh. Inilah ganjaran yang kudapat setelah hidup sengsara. Harami kecil ceroboh yang menghancurkan warisanku.” Ketika itu, Mariam tidak mengerti. Dia tidak tahu makna harami-anak haram. Dan, dia juga belum cukup besar untuk memahami ketidakadilan, untuk melihat bahwa para pencipta harami-lah yang seharusnya disalahkan, bukan harami yang berdosa hanya karena dilahirkan ke dunia. Nanti nya, ketika dia sudah besar, Mariam baru mengerti bahwa harami adalah anak yang tidak diinginkan, tidak akan pernah mendapat hak seperti anak lain. Tidak akan mendapatkan cinta, keluarga, rumah tangga, dan penerimaan.

Mariam hidup dengan ibunya yang selalu menumpahkan kemarahan dan kekesalan akan nasibnya pada Mariam. Ibunya, biasa dipanggil Nana, adalah seorang pembantu rumah tangga yang dihamili majikannya yang telah memiliki istri sah tiga orang. Setelah diancam oleh ipar-iparnya maka Jalil, majikan itu, mengusir Nana dari rumahnya. Kehidupan yang sebenarnya bagi Nana dan Mariam selalu dimulai pagi hari di Kolba (rumah kecil dari lumpur dan jerami dan beratap datar) yang dibuatkan oleh jalil untuk mereka sebagai penebus rasa bersalahnya.

Kehidupan Mariam semakin carut marut mana kala Ibunya meninggal. Mariam tidak diterima di rumah Jalil dan dipaksa kawin dengan duda tua dari Kabul sewaktu dia berumur 15 tahun ( yang di Semarang lebih muda 3 tahun dari dia :) ).

Membaca kehidupan perkawinannya membuat jantung kita seperti diaduk-aduk. Haruskah seorang manusia yang kebetulan berjenis kelamin perempuan diperlakukan seperti ini? Pertanyaan itulah yang ada dalam benak saya sambil tak bisa lepas dari halaman2 buku ini. Lalu apa arti perkawinan itu sendiri? Kebodohan, kemiskinan, ketakutan, ketidak-berdayaan, ketergantungan, sistem nilai di masyarakat, perang saudara, ego laki-laki dan lain-lain turut mempengaruhi mengapa seorang wanita mau tinggal dan tetap tinggal di dalam neraka perkawinannya yang telah merenggut masa mudanya.

Bangun pagi, masak, membersihkan rumah, kesetiaan, pengabdian, pengabdian, dan pengabdian setiap bulan dalam setahun, setiap minggu dalam sebulan, setiap hari dalam seminggu, dan setiap jam dalam sehari menjadi tidak ada artinya manakala dia tidak bisa memberikan keturunan. Cerita tidak berhenti di sini, tapi masih panjang dan berliku. Dijamin mengaduk-aduk emosi pembacanya. Terasa sekali, buku ini sangat memberi pengaruh kepada para pembacanya. Yang jelas pembacanya diperkaya dengan perenungan, wawasan, dan kekaguman akan keteguhan cinta dan kekuatan harapan.

Saya memuji pengarangnya Khaled Hosseini, seorang Afgan yang hidup di Amerika. Kepiawaian pengarangnya sangat terasa terutama dalam menggambarkan kejadian yang begitu terperinci. Pemilihan kata yang brilian sehingga menimbulkan emosi yang tepat.
Suasana politik Afganistan juga diceritakan sebagai latar belakang yang mempengaruhi seluruh sendi kehidupan warga kota Kabul.

Novel ini adalah novel kedua yang ditulis pengarangnya. Novel pertamanya lebih menghebohkan lagi. Judulnya The Kite Runner. Telah terjual lebih dari 8 juta kopi. Diterjemahkan ke dalam 42 bahasa. dan telah difilmkan oleh Paramount Pictures (saya sudah nonton dvd-nya. Kesimpulan: lebih baik baca bukunya!). Berkat novel The Kite Runner ini, yang berlatar belakang persahabatan, kemanusiaan, dan universalisme, Khaled Husseini menerima Humanitarian Award 2006 dari UNHCR.

Buku: The Naked Traveler

Ulasan ini juga saya pindahkan dari blog FS saya. So isinya sama persis.

Judul: The Naked Traveler
Penulis: Trinity
C│Publishing

Sehabis melalap The Girls of Riyadh disela-sela waktu kerja, saya “menggauli” The Naked Traveler setiap sebelum tidur. Hasilnya dalam dua hari selesai sudah kegiatan itu.

The Naked Traveler bukan novel tapi catatan perjalanan yang ditulis oleh seorang wanita Indonesia yang hobi melakukan perjalanan (traveling) sebagai backpacker. Buku ini tidak bercerita tentang indahnya pemandangan di tempat-tempat wisata yang dikunjungi. Buku ini berisi tulisan bukan tentang apa yang dilihat penulis melainkan apa yang dirasakan penulis. Penulis terasa sekali kejujurannya dalam mengungkapkan pengalamannya. Terlebih apa yang dirasakannya. Membaca buku ini akan membangkitkan mimpi sebagian besar orang yaitu bisa traveling ke berbagai penjuru dunia. Terutama ke wilayah-wilayah yang tidak biasa dikunjungi turis.

Pembaca akan merasa kagum dengan penulis mengingat dia sering melakukan perjalanan seorang diri. Trinity telah mengajak kita untuk berani melakukan perjalanan seorang diri walaupun anda seorang wanita muda.

Penuh petualangan, kadang lucu, senang, sedih, bahkan menjengkelkan. Pengalamannya dapat dijadikan petunjuk bagi pembaca yang akan mengunjungi tempat-tempat yang pernah dikunjunginya.Beberapa tempat yang diceritakannya kebetulan pernah juga saya kunjungi. Jadinya mengingatkan saya akan tempat-tempat itu. Dan hasrat untuk melakukan traveling kembali berkobar. Kendalanya hanya satu. Yaitu faktor M.

Salah satu tulisannya yang menarik adalah bagaimana orang Filipina juga suka terbalik dalam mengucapkan huruf p menjadi f, dan huruf f diucapkan sebagai p. Seperti sebagian orang Sundalah dalam mengucapkan Panta, Pespa, Rafat dsb, tapi yang ini lebih farah eh parah.

Ada juga dia mencoba iseng-iseng menganalisa orang dengan main fisik. Cowok paling cakep di dunia adalah cowok Italia, cewek paling cantik cewek Perancis (setuju 100%), negara yang cowok ceweknya cakep cakep adalah Puerto Rico. Cowoknya kayak Ricky Martin semua dan ceweknya kayak J Lo semua. Etnis Asia yang susah dibedakan dari ciri fisiknya adalah Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Filipina.

Nah cowok terjelek di dunia menurut dia adalah cowok asli Brunei. Mereka tidak punya manner, dan yang berumur 25-35 pun kayak bapak-bapak. Semua dengan rambut licin berminyak dan kemeja lengan panjang dimasukan ke celana bahan yang garis pinggangnya tinggi bak Jojon! Dia berkesimpulan Sultan Bolkiah adalah satu-satunya cowok yang paling cakep di Brunei.

Bacaan bagus, ringan, dan yang pasti akan men-trigger semangat (mimpi) bertualang bagi para pembacanya. Paling tidak iri sama penulisnya yang telah melanglang buana ke berbagai tempat di dalam dan di luar negeri.

Dari cara menulisnya yang terkesan seenaknya, sebetulnya buku ini dapat menginspirasi kaum muda untuk berani menuliskan pengalamannya dalam satu tulisan yang singkat dan menayangkanya di blog pribadi mereka. Pengalaman apa saja yang di temuinya. Hitung-hitung sebagai latihan menulis.

So guys, write what you have done, seen, and been.

Buku: The Girls of Riyadh

Tulisan ini saya pindahkan dari blog FS saya. Jadi bagi yang pernah baca jangan heran isinya sama persis.

The Girls of Riyadh
Rajaa Al Sanea
408 halaman
Rp. 47.000,-

Hari pertama libur Lebaran saya membaca resensi sebuah novel di harian Kompas. Setelah saya baca timbul keinginan saya untuk membaca novelnya. Pas jalan2 ke Gramedia dalam rangka mengiri libur Lebaran, saya comot dua buku yang ringan yaitu The Girls of Riyadh (novel yang resensinya saya baca) dan buku The Naked Traveler (ini mah impulse buying). Keduanya sudah tamat saya. Sekarang saya mau nulis tentang The Girls of Riyadh dulu. Buku The Naked Traveler akan saya bahas nanti.

Novel ini adalah novel pertama yang ditulis oleh seorang gadis Saudi Arabia yang baru berusia 22 tahun! Rajaa Al Sanea. Tidak seperti novel biasanya. Novel ini bercerita tentang empat orang gadis Saudi dari kalangan atas yang diceritakan melalui email yang dikirimkan ke suatu milis setiap Jumat siang. Ternyata email2 yang dikirimkan setiap minggu itu mendapat sambutan yang sangat besar dari masyarakat Saudi. Mereka selalu membicarakannya setiap hari Sabtu di sekolah2, kampus2, kantor2, dll.

Reaksi yang begitu besar terhadap cerita bersambung itu lebih dikarenakan email2 itu dianggap telah menghina tradisi dalam masyarakat Saudi yang selama ini sangat tertutup. Di awal novel ini si penulis sudah mengejutkan pembaca dengan mengambarkan kalangan atas Saudi dimana para gadis minum Champagne, berpakaian seperti pria, dan berpacaran dengan cowok di negara dimana perempuan dilarang memiliki SIM, apalagi bercampur baur dengan lawan jenis di tempat umum.

Dalam wawancara dengan majalah Asharq Al-Awsat, Al Sanea ditanya apakah dia tidak takut mendapat serangan dari berbagai pihak atas keberaniannya menggambarkan kehidupan yang sebenarnya dari kaum wanita Saudi. Dia menjawab:”I was expecting to be criticized and I included that in the introduction of each letter. Differences in opinions should open the door for dialogue and not aggression. We suffer from an inability to accept rival opinions. Deciding whether to support or condemn a certain point of view requires courage and self-confidence. The majority know that I describe real events but certain groups have attacked me. Strangely, a number of individuals who criticized the novel admit they have yet read it!” Jelas ini adalah jawaban yang sangat berbobot dari seorang penulis muda yang berusia 22 tahun. Two thumbs-up buat dia.

Salah satu gadis yang diceritakan dalam novel itu adalah Michelle. Michelle berayah Arab Saudi dan beribu Amerika. Dia tokoh yang paling vokal dalam menyuarakan kritikannya terhadap persepsi orang Saudi dalam memandang bagaimana hukum Syariah semestinya dijalankan. Akibatnya si penulis dikecam oleh berbagai kalangan. Al Sanea sendiri dalam koran Egypt Today mengatakan bahwa novelnya mengandung kritik terhadap tradisi dan bukannya terhadap hukum Syariah dengan mengatakan: ”I respect my religion. I am a faithful Muslim and proud of it. Shariah is an important part of Islam that should be respected,” Lalu Al Sanea melanjutkan, “but there is confusion here. What the novel speaks about are traditions that are not part of our Shariah and have simply hampered our way of life to the point that they have resulted in the misery and suffering of people in our society.”

Ketika dia dituduh telah melanggar garis yang seharusnya tidak dilewati dia bilang: ”What I crossed were merely social taboos, not religious ones. This is a very important clarification. There is a difference between time-honored traditions that cannot survive our modern time and those eternal values upheld by religion.”

Anyway, novel ini sebenarnya novel percintaan dari empat mahasiswi Arab Saudi yang berdomisili di kota Riyadh. Novel ini dihiasi dengan kutipan2 puisi dari tokoh2 besar. Sayang penerjemahannya ke dalam bahasa Indonesia mengakibatkan “rasa” dari puisi2 itu jadi tidak se indah jika ditulis pakai bahasa aslinya. Seandainya saya bisa bahasa Arab, wah kebayang indahnya puisi2 itu (Menurut saya perkosaan yang paling jahat adalah pen-dubbing-an suatu film dari bahasa aslinya ke dalam bahasa lain). Dalam kehidupan percintaannya keempat gadis itu memiliki perjalanan yang berbeda-beda. Tetapi semuanya memiliki mimpi yang sama yaitu menunggu untuk menemukan “Mr Right.” Dari keempat tokoh itu hanya tokoh Shedim yang akhirnya mengerti dan memahami ungkapan “Terimalah pria yang mencintaimu, jangan kejar pria yang kau cintai.

Well, akhir kata, novel ini sangat memberi pencerahan terutama bagi para wanita muda yang mempunyai mimpi untuk mendapatkan “Mr Right.” Dan juga memperluas wawasan pembacanya terhadap budaya lain yang selama ini kurang diketahui oleh masyarakat luar. Dan saya sangat terkagum-kagum sama kepintaran penulisnya Rajaa Al Sanea.
Mana geulis lagi.

MILLION DOLLAR BABY

Judul: Million Dollar Baby
Sutradara: Clint Eastwood
Pemain: Clint Eastwood; Morgan Freeman; Hilary Swank

Film ini sebenarnya mulai diedarkan pada tahun 2004 dan mendapat piala Oscar (Academy Award) 2005 untuk kategori film terbaik, sutradara terbaik (Clint Eastwood), peran wanita terbaik (Hilary Swank), dan peran pembantu pria terbaik (Morgan Freeman). Menurut saya kekuatan dari film ini berpusat bukan pada sutradara dan para pemainnya yang sangat prima tetapi pada ceritanya yang sangat (istilah saya) ‘powerful’. Setelah saya tonton lagi, saya jadi ingin menuliskan ulasan mengenai film ini.

Maggie Fitzgerald (Hilary Swank) adalah seorang wanita yang sudah tidak muda lagi (31 tahun) untuk mulai berlatih tinju. Datang dari latar belakang keluarga yang miskin dan berantakan, dia menjadi pelayan restoran sejak usia 13 tahun. Di dalam hatinya ada sebuah mimpi yang membuat dia terus bertahan berlatih tinju walaupun ditolak mentah-mentah oleh Frankie (Clint Eastwood), seorang pelatih tinju kawakan yang sudah tua dan telah menghasilkan juara dunia. Bukan hanya karena Maggie sudah terlalu tua untuk mulai berlatih untuk menjadi seorang petinju profesional, terlebih karena dia seorang perempuan. Dan Frankie tidak mau melatih seorang perempuan. Bagi Maggie bisa saja dia membeli kereta dorong bekas lengkap dengan kompornya lalu berjualan burger dan kentang goreng. Tetapi “the problem is, this is (bertinju) the only thing I ever felt good doing.” Kegigihan dan sifat pantang menyerah Maggie-lah (“I want a trainer. I don’t want charity, and I don’t want favors”) yang membuat Frankie akhirnya (dengan berat hati) mau melatih Maggie.

Frankie pemilik sekaligus pelatih di Hit Pit Gym mempunyai masalah komunikasi dengan anak perempuannya Kathy, serta mempunyai masalah dengan keyakinannya terhadap ajaran gereja Katolik, walaupun begitu dia selalu pergi ke gereja setiap hari. Dibantu oleh seorang caretaker, Scrap, Frankie menjalankan bisnis pelatihan tinju dengan sepenuh hati. Setelah ditinggalkan salah seorang petinju kesayangannya, Frankie sedikit demi sedikit mulai melatih Maggie dengan intens. Sedikit demi sedikit juga kebekuan hatinya mulai mencair dengan hadirnya Maggie, sementara Kathy, anaknya, sudah tidak diketahui lagi tempat tinggalnya.

Dengan memberi perhatian seperti seorang ayah, Frankie, akhirnya dapat mengantarkan Maggie menjadi seorang petinju profesional yang sangat disegani lawan-lawannya. Frankie, bahkan dapat mewujudkan impian Maggie untuk memperoleh kesempatan bertanding dalam perebutan gelar juara dunia.

Walaupun film ini berbicara tentang dunia tinju, penuh dengan adegan pertandingan tinju. Tetapi sebenarnya film bukan film tinju. Ini film tentang kegigihan, pantang menyerah, dan keyakinan pada impian yang akan diraih. Ini film tentang hubungan antar manusia yang mencari keluarga, dimana keluarga biologis kadang-kadang dirasakan bukan keluarga yang sebenarnya. Ini film tentang perhatian seorang ayah kepada anak perempuannya.

Hanya sedikit film yang setelah saya tonton, sehari dua hari kemudian ceritanya masih membekas dengan jelas, bahkan masih mengganggu pikiran saya. Film ini salah satunya. Itu sebabnya saya suka sekali film ini. Watch it, it’s remarkable!

nb: copy yang saya tonton text bahasa Indonesianya amit-amit payahnya. Jadi pakai saja text bahasa Inggrisnya.

Rabu, 31 Desember 2008

BANDUNG - PANGANDARAN VIA CIKALONG

Setelah membaca Pantaiku Pantai kita (http://profiles.friendster.com/18597343) Saya jadi punya keinginan untuk mengunjungi pantai Karang Tawulan tersebut. Kebetulan saya dan adik-adik saya ada rencana liburan Natal di Pangandaran. Ya benar Pangandaran. Entah keberapa kali saya ke Pangandaran. Well…saya pikir pantai yang cukup bagus untuk dikunjungi dengan biaya yang affordable (walaupun biaya hotel naik dua kali lipat pada liburan akhir tahun ini) adalah Pangandaran. Sebenarnya banyak the things that you can do di Pangandaran. Makan seafood itu pasti. Bersepeda tandem, jalan-jalan di cagar alam, berperahu ke pasir putih atau ke tempat yang lebih jauh lagi untuk melihat batu..apa gitu saya lupa lagi, berbelanja pakaian pantai, pernak-pernak khas kota pantai, berkeliling dengan mengendarai ATV, atau naik becak berkeliling sekitar pantai barat dan pantai timur. Atau pergi jauh sedikit ke Cijulang, sekitar 30 kilometer arah barat Pangandaran, ada Green Canyon. Lebih jauh lagi ada pantai Batu Karas yang bersih dan teduh. Singkat cerita tidak ada bosannya saya ke Pangandaran.

Jadi pada tanggal 26 Desember kemarin saya berangkat ke Pangandaran melalui jalur selatan. Jalur yang sebelumnya belum pernah saya lalui. Rute yang harus ditempuh adalah Bandung – Garut – Singaparna – Sukaraja – Salopa – Cikatomas – Cikalong – Kalapa Genep – Cimanuk – Cijulang - Parigi – Pangandaran.

Singkat cerita dari Bandung berangkat pukul 9 pagi menuju Garut. Setelah melalui kota Garut mobil diarahkan menuju arah kota Tasikmalaya. Setelah melalui kecamatan Salawu maka kita akan memasuki kota Singaparna. Nah begitu sampai di wilayah Singaparna, di depan mesjid Mangunreja kita harus belok ke kanan. Hanya sayangnya tidak ada papan petunjuk apapun yang memberi tahu arah ke Cikalong. Papan petunjuk baru akan terbaca bagi mereka yang datang dari arah Tasikmalaya.

Anyway, di depan mesjid Mangunreja ini terdapat beberapa kios yang menjual makanan. Yang terkenal adalah kupat tahunya. Silahkan dicoba. Saya sih mencoba makan mie bakso dibagian belakang kios-kos tadi. Lumayan juga, kategori acceptable lah.

Perjalanan dilanjutkan kearah Sukaraja. Nah di Sukaraja ini sepanjang 200 meter jalan jelek banyak lubang. Untung tidak terlalu panjang. Selanjutnya kita ke arah Salopa. Setelah Salopa kita akan dihadapkan pada pertigaan dengan rambu petunjuk arah menunjukkan arah Tasikmalaya dan Cikatomas ke kiri. Lalu kita belok kiri. Selanjutnya kita harus ke Cikatomas, hanya sayangnya lagi-lagi tidak ada rambu petunjuk arah ke Cikatomas. Akhirnya setelah bablas 2 kilometer dan bertanya sekali kita balik arah. Nah dari arah sini (Tasikmalaya) baru ada rambu petunjuk arah ke Cikatomas. Jalan berliku-liku di dalam hutan. Tak lama kemudian di sepanjang pinggir jalan banyak rumah-rumah penduduk. Setelah sampai di Cikatomas, maka perjalanan terus berlanjut ke arah Cikalong, kota kecamatan di pinggir pantai selatan Jawa barat.

Setelah melewati Cikalong mobil belok kiri ke arah timur menuju Kalapa Genep. Pada jalur ini jalan mulus, sepi, dan jarang penduduk. Di sebelah kanan kita laut selatan. Nah di jalur inilah terdapat pantai Karang Tawulan. Sebuah pantai yang masih perawan karena memang tidak ada fasilitas apa-apa untuk wisatawan. Tapi justru itu kelebihannya. Pantainya bersih sekali. Pandangan luas sekali. Ombaknya besar. Tidak ada yang berenang. Saya tidak tahu pasti apakah pantai ini aman untuk direnangi. Perkiraan saya sih tidak. Ingat kita harus respect sama pantai manapun! Keindahan pemandangan di sini top banget. Beda dengan Pangandaran yang sudah over-exploited. Tidak ada bangunan, hanya pantai dan ombaknya. Beautiful! (Untuk lebih lengkap silahkan baca Pantaiku pantai kita di
http://profiles.friendster.com/18597343)

Anyway, sepanjang jalur ini kita berkendaraan disepanjang pantai laut selatan. Jadi sesekali kita bisa melihat pantai itu. Kendaraan lain hanya ada satu dua. Jalan sangat lengang beraspal mulus. Suasana yang berbeda sekali dengan jalur Bandung – Ciamis – Pangandaran yang sangat ramai. Setelah melewati (desa) Cimanuk maka sepanjang beberapa kilometer jalan aspal berubah menjadi jalan beton yang sangat mulus. Cukup mengagetkan saya juga (maksudnya diluar perkiraan) jalan disini dibeton seperti jalan tol Cipularang hanya lebih sempit. Disepanjang jalur ini kita sering melihat rambu jalur evakuasi pengungsi jika terjadi bencana tsunami. Tak lama kemudian kita sampai ke Cijulang tempat pemberangkatan perahu menuju Green Canyon. Karena sudah beberapa kali ke Green Canyon, maka kita tidak berhenti di sini melainkan lanjut langsung ke Pangandaran. Sesampainya di hotel langsung istirahat. Total perjalanan yang sangat santai ini dari Bandung ditempuh selama kurang lebih 6 jam.

Besoknya kami jalan-jalan ke pantai Batu Karas. Beda sekali dengan pantai Pangandaran yang sangat ramai, kotor (banyak sampah berserakan di pantai), airnya juga keruh. Pantai Batu Karas ini airnya jernih, pasirnya bersih dan teduh karena banyak pepohonan sehingga kita bisa gelar tikar di pasir putihnya untuk membuka bekal. Anak dan keponakan saya menggerutu kenapa nggak nginap di sini, di Pangandaran nggak nyaman, terlalu banyak orang, kayak pasar malam, etc…etc…

Memang kalau ingin berlibur yang tidak terlalu gegap gembita ya di sini tempatnya. Hanya hotel-hotel di Batu Karas ini tidak ada yang dilengkapi dengan kolam renang (Kan udah ada laut! kata anak saya). Kita akhirnya sepakat jika ke Pangandaran lagi kita akan menginap di pantai Batu Karas. Dijamin nggak akan nyesel!

AF

LES MISERABLES

Film “Les Miserables”
Sutradara: Billie August
Diangkat dari novel dengan judul yang sama karangan Victor Hugo.

Judul novel karangan Victor Hugo ini pertama kali saya kenal bukan dari buku novelnya, melainkan dari spanduk yang terpampang besar sekali di depan gedung Festival Theater di Adelaide di awal tahun 1990an. Spanduk itu dipasang sebagai alat promosi untuk pertunjukan drama musikal dengan judul yang sama. Konon drama musikal ini telah ditonton lebih dari 40 juta orang di seluruh penjuru dunia.

Les Miserables (dibaca le miserab) berarti Kaum Tertindas memang sangat terkenal sebagai salah satu drama musikal yang paling sukses di dunia disamping yang phenomenal Phantom of the Opera. Les Miserables dalam format musikal pernah diangkat ke layar lebar. Nah yang baru saja saya tonton adalah film Les Miserables yang diadaptasi langsung dari novelnya. Jadi bukan film musikal seperti Phantom of the Opera (salah satu film yang sangat saya sukai ini akan saya ulas di lain waktu).

Film yang mulai diedarkan tahun 1998 ini dibintangi oleh Liam Neeson (Taken), Umma Thurman (Pulp Fiction, Kill Bill vol 1 dan Kill Bill vol 2) dan Claire Danes (Shakespeare’s Romeo and Juliet). Alkisah ada seorang lelaki bernama Jean Valjean. Dia dipenjara belasan tahun karena mencuri roti. Dia mencuri karena dorongan perutnya yang kelaparan. Pada masa revolusi Perancis, terdapat dua kutub yang sangat kontras yaitu keluarga kerajaan yang kaya raya, dan rakyat jelata yang miskin, bodoh dan kelaparan. Kondisi politik pada saat itu membuat para mahasiswa berontak dan mempunyai ide untuk mendirikan republik.

Sepanjang kehidupan bebasnya Jean Valjean dikejar-kejar oleh Kepala Polisi Javert. Tujuan hidup Javert adalah menegakkan aturan dan perundang-undangan at all cost! Etika, logika, dan nurani disingkirkannya. Yang penting baginya adalah menangkap orang yang melanggar hukum. Pelanggar hukum perlu dihukum sesuai dengan aturan. Apapun motivasi pelanggar hukum, mereka bersalah. Dan orang yang bersalah adalah orang jahat. Sekali penjahat tetap penjahat yang harus membayar kejahatannya. Baginya kebenaran adalah jelas sekali dan sederhana sekali. Yaitu segala sesuatu yang tertulis di kitab hukum. Pelanggar hukum harus dihukum titik!.

Saya jadi teringat cerita Ustad Yusup Mansyur tentang seseorang yang berteriak dan bersumpah akan jadi penjahat karena dia ditekan, didesak, dan digencet oleh aparat. Sementara dia hanya sekedar ingin mencari sesuap nasi. Tetapi pihak aparat menganggap dia telah melanggar aturan yang ada. Sama seperti Jean Valjean. Dia mengakui telah mencuri hanya karena perutnya lapar. Dia sudah membayar lunas dengan hukumannya. Dan dia sudah menjadi orang baik. Sudah berubah. Bahkan sudah menjadi seorang wali kota.

Tetapi di mata Polisi Javert itu Jean Valjean tetap seorang penjahat yang harus ditangkap. Setelah selama sepuluh tahun mengasingkan diri di dalam biara, Valjean akhirnya dapat ditangkap oleh Javert. Tetapi dengan pertolongan para mahasiswa Javert-lah yang akhirnya tertangkap oleh Valjean. “Apa yang kamu cari? Why don’t you just leave me alone. Saya hanya ingin menjadi rakyat biasa.” Kata Valjean kepada Javert. Tetapi bagi Javert ketidak-berhasilan menangkap Valjean adalah bukti kekalahannya. Oleh karena itu lebih baik dia mati daripada dia mengalami kekalahan. Tetapi Valjean tidak membunuhnya, walaupun ada kesempatan untuk itu. Film ini diakhiri dengan adegan yang cukup mengejutkan.

Kadang-kadang saya berpikir, banyak juga Valjean-valjean jenis lain di Indonesia ini. Sesekali saya pergi ke pasar di kaki lima pagi sekali. Saya melihat kesibukan para pedagang yang sedang melayani pembeli. Tawar menawar. Sebagian sedang mempersiapkan dagangannya. Saya melihat betapa indahnya roda ekonomi rakyat kecil. Mereka melakukan itu demi sesuap nasi. Mengumpulkan seratus dua ratus rupiah untuk menghidupi dirinya dan keluarganya dengan cara yang halal. Tetapi sering juga saya lihat di televisi bagaimana Polisi Pamong Praja mengobrak-abrik dagangan mereka. Menggusur kios mereka, yang merupakan sumber penghidupan mereka, dengan alasan keindahan dan ketertiban kota. Jeritan dan tangisan tidak mampu menghalangi langkah mereka.

Well….hidup memang tidak mudah……………………………..bagi sebagian orang.

AF

BERANI MEMILIH

(Tulisan ini sebenarnya komentar untuk untuk tulisan “Life is about choice” pada www.vitachuya.blogspot.com. Karena terlalu panjang jadi saya muat di blog saya ini sebagai tulisan pertama)

“Andai hidup tak perlu memilih, andai manusia hanya menjalani tanpa harus memilih. Mungkin hidup ini tak akan terlalu sulit.”

Wow! itulah kesan saya sesudah membaca tulisan di atas. Ungkapan di atas seperti benar padahal kalau dipikirkan kembali, betapa boring-nya hidup ini kalau kita tidak perlu melakukan pilihan.

Hidup adalah pilihan. Saya setuju itu Vita. Hidup adalah tentang membuat pilihan. Hidup adalah memilah-milah dan memilih-milih dari sekian pilihan. Hidup adalah tentang mengambil keputusan untuk memilih A atau B. Semua orang pasti pernah mengalami suatu situasi dimana dia harus memilih. Dari yang paling sederhana, memilih menu makan siang misalnya. Memilih sepatu yang akan dibeli, memilih baju yang akan dikenakan, sampai yang lebih serius seperti memilih sekolahan, bahkan memilih pasangan hidup. Semua orang punya pilihan dan semua orang harus memilih (dengan kriteria masing2 tentunya). Ada orang yang memilih A. Ada orang yang memilih B. Tetapi tidak sedikit orang yang mengambil keputusan dengan tidak memilih keduanya. Yang jelas selama orang itu hidup dia akan dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam menjalani hidupnya.

Tetapi banyak orang yang mempunyai masalah dengan memilih. Banyak orang yang merasa tidak nyaman kalau harus memilih. Banyak orang yang merasa kesulitan untuk memilih. Banyak orang yang lebih senang keluar dari situasi harus mengambil keputusan untuk memilih. Banyak orang yang ingin lari dari situasi harus memilih.

Mengapa??

Jawabannya bisa bermacam-macam. Tetapi kalau dirangkum menjadi satu maka akan mengerucut kepada satu hal yaitu takut pilihannya salah. Takut akan akibat yang tidak menyenangkan dari pilihannya jika pilihannya itu dinilai tidak tepat alias salah. Contoh yang paling sederhana adalah mengapa sebagian besar mahasiswa Indonesia tidak mau berbicara pakai bahasa Inggris manakala situasi memungkinkan? Jawaban yang paling umum adalah “Takut salah.” Kalau kita telusuri lebih lanjut, memangnya kenapa kalau salah? Maka jawabannya adalah “Takut diketawain, jadi malu.” Jadi dari pada menanggung resiko ditertawakan temannya karena salah ucap atau salah grammar, tindakan yang paling aman adalah dengan tidak berbicara pakai bahasa Inggris sama sekali. Hal ini diperparah oleh kenyataan sepertinya urat ketawa orang Indonesia sensitif sekali. Lihat temannya jatuh tersandung, orang tertawa. Lihat temannya salah ucap, orang tertawa. Situasi inilah yang membuat mahasiswa tidak berani untuk memilih belajar berbahasa Inggris dengan cara mempraktekkannya sesering mungkin.

Ada orang yang bilang bahwa keberanian mengambil keputusan untuk memilih ada kaitannya dengan tingkat kepercayaan dirinya. Orang yang percaya-dirinya tinggi cenderung lebih berani dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, orang yang percaya-dirinya rendah selalu memerlukan bantuan, nasehat, dukungan, atau dorongan temannya dalam mengambil keputusan.

Keberanian mengambil keputusan adalah suatu keterampilan. Sama seperti keterampilan yang lain, jam terbang sangat berperan dalam rangka menguasai keterampilan ini. Semakin sering orang berani mengambil keputusan semakin piawai dia dalam memilih keputusan yang benar. Semakin sering orang berlatih piano, semakin pandai dia bermain piano. Semakin sering orang berlatih berenang, semakin pandai dia berenang. Semakin sering orang berbicara dalam bahasa Inggris, semakin fasih dia berbahasa Inggris. Dalam semua contoh-contoh tadi semakin tinggi juga rasa percaya-dirinya. Ini sih hukum alam yang tidak bisa dilanggar. Persoalannya sekarang adalah bagaimana melatih keberanian mengambil keputusan untuk memilih? Masalahnya ada pada perceived risk yang ada pada benak orang itu.

Perceived risk adalah resiko yang ada pada pandangan seseorang yang dia perkirakan akan muncul manakala dia mengambil keputusan yang salah. Apakah resiko itu pasti akan muncul? Belum tentu! Kalaupun resiko itu muncul, apakah akan sebesar yang diperkirakannya? Belum tentu! Kembali ke contoh berbahasa Inggris tadi. Resiko apa yang akan dialami oleh seorang mahasiswa yang berani berbahasa Inggris? Ditertawakan teman-temannya karena salah ucap. Apakah hal itu pasti terjadi? Belum tentu! Kalaupun hal itu terjadi, apakah si mahasiswa akan merasa malu? Mungkin ya. Apakah si mahasiswa akan mendadak menjadi bodoh? Jelas tidak. Apakah si mahasiswa akan jadi di asingkan? Jelas tidak. Apakah teman-teman akan terus mentertawakannya sepanjang hari? Jelas tidak. Apakah si mahasiswa akan mendadak jadi sakit? Jelas tidak. Jadi apa yang mesti ditakutkan?....Tidak ada! Resiko terbesar adalah ditertawakan, dan itupun kemungkinannya kecil sekali. Kalaupun ditertawakan.. So what gitu loh? Yang mentertawakanpun belum tentu bahasa Inggrisnya lebih baik. Jadi?.... Give it a shot! Saya selalu mengatakan “Just speako” (dari kata ngomongo). Jangan takut salah grammar just speako! Jika kita tidak pernah berbahasa Inggris karena takut salah, maka selamanya kita tidak akan bisa berbahasa Inggris. Jika kita tidak mau berlatih renang karena takut tenggelam, maka selamanya kita tidak akan bisa berenang. Jika kita tidak mau berlatih naik sepeda karena takut jatuh, maka selamanya kita tidak akan bisa bersepeda. Dan itu pasti!

Kembali ke masalah harus memilih. Jika kita dihadapkan harus memilih A atau B, banyak orang yang memandangnya sebagai tiga pilihan. Memilih A, memilih B, dan tidak memilih keduanya. Padahal kita dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, memilih (A atau B), dan yang kedua, tidak memilih keduanya. Tindakan yang bijak adalah dengan melakukan pilihan pertama yaitu memilih baik A ataupun B. Bukankah kita dihadapkan pada perceived risk jika kita memilih A ataupun B? Well, memilih A ataupun B adalah jauh lebih baik dibanding tidak memilih sama sekali. Kalaupun resiko itu muncul, kita bisa mengambil pelajaran darinya. Selalu akan ada hikmah dari setiap keputusan yang kita ambil. Kita tidak akan mendapat apa-apa jika kita tidak berani mengambil keputusan. Percaya-diri kita pun tidak akan meningkat jika kita berdiam diri saja. Jadi, tentukan pilihan (A atau B) dan segera ambil keputusan. Dan lihat apa yang akan terjadi. Yang pasti kita akan selalu mendapat pelajaran yang berharga dari setiap keputusan yang telah kita ambil. Dan pelajaran itulah yang akan membuat kita semakin berkembang. semakin dewasa, semakin bijak, dan semakin percaya diri.

“Lebih baik berani mengambil keputusan dan salah, daripada tidak berani mengambil keputusan karena takut salah.”

AF