Rabu, 31 Desember 2008

LES MISERABLES

Film “Les Miserables”
Sutradara: Billie August
Diangkat dari novel dengan judul yang sama karangan Victor Hugo.

Judul novel karangan Victor Hugo ini pertama kali saya kenal bukan dari buku novelnya, melainkan dari spanduk yang terpampang besar sekali di depan gedung Festival Theater di Adelaide di awal tahun 1990an. Spanduk itu dipasang sebagai alat promosi untuk pertunjukan drama musikal dengan judul yang sama. Konon drama musikal ini telah ditonton lebih dari 40 juta orang di seluruh penjuru dunia.

Les Miserables (dibaca le miserab) berarti Kaum Tertindas memang sangat terkenal sebagai salah satu drama musikal yang paling sukses di dunia disamping yang phenomenal Phantom of the Opera. Les Miserables dalam format musikal pernah diangkat ke layar lebar. Nah yang baru saja saya tonton adalah film Les Miserables yang diadaptasi langsung dari novelnya. Jadi bukan film musikal seperti Phantom of the Opera (salah satu film yang sangat saya sukai ini akan saya ulas di lain waktu).

Film yang mulai diedarkan tahun 1998 ini dibintangi oleh Liam Neeson (Taken), Umma Thurman (Pulp Fiction, Kill Bill vol 1 dan Kill Bill vol 2) dan Claire Danes (Shakespeare’s Romeo and Juliet). Alkisah ada seorang lelaki bernama Jean Valjean. Dia dipenjara belasan tahun karena mencuri roti. Dia mencuri karena dorongan perutnya yang kelaparan. Pada masa revolusi Perancis, terdapat dua kutub yang sangat kontras yaitu keluarga kerajaan yang kaya raya, dan rakyat jelata yang miskin, bodoh dan kelaparan. Kondisi politik pada saat itu membuat para mahasiswa berontak dan mempunyai ide untuk mendirikan republik.

Sepanjang kehidupan bebasnya Jean Valjean dikejar-kejar oleh Kepala Polisi Javert. Tujuan hidup Javert adalah menegakkan aturan dan perundang-undangan at all cost! Etika, logika, dan nurani disingkirkannya. Yang penting baginya adalah menangkap orang yang melanggar hukum. Pelanggar hukum perlu dihukum sesuai dengan aturan. Apapun motivasi pelanggar hukum, mereka bersalah. Dan orang yang bersalah adalah orang jahat. Sekali penjahat tetap penjahat yang harus membayar kejahatannya. Baginya kebenaran adalah jelas sekali dan sederhana sekali. Yaitu segala sesuatu yang tertulis di kitab hukum. Pelanggar hukum harus dihukum titik!.

Saya jadi teringat cerita Ustad Yusup Mansyur tentang seseorang yang berteriak dan bersumpah akan jadi penjahat karena dia ditekan, didesak, dan digencet oleh aparat. Sementara dia hanya sekedar ingin mencari sesuap nasi. Tetapi pihak aparat menganggap dia telah melanggar aturan yang ada. Sama seperti Jean Valjean. Dia mengakui telah mencuri hanya karena perutnya lapar. Dia sudah membayar lunas dengan hukumannya. Dan dia sudah menjadi orang baik. Sudah berubah. Bahkan sudah menjadi seorang wali kota.

Tetapi di mata Polisi Javert itu Jean Valjean tetap seorang penjahat yang harus ditangkap. Setelah selama sepuluh tahun mengasingkan diri di dalam biara, Valjean akhirnya dapat ditangkap oleh Javert. Tetapi dengan pertolongan para mahasiswa Javert-lah yang akhirnya tertangkap oleh Valjean. “Apa yang kamu cari? Why don’t you just leave me alone. Saya hanya ingin menjadi rakyat biasa.” Kata Valjean kepada Javert. Tetapi bagi Javert ketidak-berhasilan menangkap Valjean adalah bukti kekalahannya. Oleh karena itu lebih baik dia mati daripada dia mengalami kekalahan. Tetapi Valjean tidak membunuhnya, walaupun ada kesempatan untuk itu. Film ini diakhiri dengan adegan yang cukup mengejutkan.

Kadang-kadang saya berpikir, banyak juga Valjean-valjean jenis lain di Indonesia ini. Sesekali saya pergi ke pasar di kaki lima pagi sekali. Saya melihat kesibukan para pedagang yang sedang melayani pembeli. Tawar menawar. Sebagian sedang mempersiapkan dagangannya. Saya melihat betapa indahnya roda ekonomi rakyat kecil. Mereka melakukan itu demi sesuap nasi. Mengumpulkan seratus dua ratus rupiah untuk menghidupi dirinya dan keluarganya dengan cara yang halal. Tetapi sering juga saya lihat di televisi bagaimana Polisi Pamong Praja mengobrak-abrik dagangan mereka. Menggusur kios mereka, yang merupakan sumber penghidupan mereka, dengan alasan keindahan dan ketertiban kota. Jeritan dan tangisan tidak mampu menghalangi langkah mereka.

Well….hidup memang tidak mudah……………………………..bagi sebagian orang.

AF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar