Kamis, 01 Januari 2009

MILLION DOLLAR BABY

Judul: Million Dollar Baby
Sutradara: Clint Eastwood
Pemain: Clint Eastwood; Morgan Freeman; Hilary Swank

Film ini sebenarnya mulai diedarkan pada tahun 2004 dan mendapat piala Oscar (Academy Award) 2005 untuk kategori film terbaik, sutradara terbaik (Clint Eastwood), peran wanita terbaik (Hilary Swank), dan peran pembantu pria terbaik (Morgan Freeman). Menurut saya kekuatan dari film ini berpusat bukan pada sutradara dan para pemainnya yang sangat prima tetapi pada ceritanya yang sangat (istilah saya) ‘powerful’. Setelah saya tonton lagi, saya jadi ingin menuliskan ulasan mengenai film ini.

Maggie Fitzgerald (Hilary Swank) adalah seorang wanita yang sudah tidak muda lagi (31 tahun) untuk mulai berlatih tinju. Datang dari latar belakang keluarga yang miskin dan berantakan, dia menjadi pelayan restoran sejak usia 13 tahun. Di dalam hatinya ada sebuah mimpi yang membuat dia terus bertahan berlatih tinju walaupun ditolak mentah-mentah oleh Frankie (Clint Eastwood), seorang pelatih tinju kawakan yang sudah tua dan telah menghasilkan juara dunia. Bukan hanya karena Maggie sudah terlalu tua untuk mulai berlatih untuk menjadi seorang petinju profesional, terlebih karena dia seorang perempuan. Dan Frankie tidak mau melatih seorang perempuan. Bagi Maggie bisa saja dia membeli kereta dorong bekas lengkap dengan kompornya lalu berjualan burger dan kentang goreng. Tetapi “the problem is, this is (bertinju) the only thing I ever felt good doing.” Kegigihan dan sifat pantang menyerah Maggie-lah (“I want a trainer. I don’t want charity, and I don’t want favors”) yang membuat Frankie akhirnya (dengan berat hati) mau melatih Maggie.

Frankie pemilik sekaligus pelatih di Hit Pit Gym mempunyai masalah komunikasi dengan anak perempuannya Kathy, serta mempunyai masalah dengan keyakinannya terhadap ajaran gereja Katolik, walaupun begitu dia selalu pergi ke gereja setiap hari. Dibantu oleh seorang caretaker, Scrap, Frankie menjalankan bisnis pelatihan tinju dengan sepenuh hati. Setelah ditinggalkan salah seorang petinju kesayangannya, Frankie sedikit demi sedikit mulai melatih Maggie dengan intens. Sedikit demi sedikit juga kebekuan hatinya mulai mencair dengan hadirnya Maggie, sementara Kathy, anaknya, sudah tidak diketahui lagi tempat tinggalnya.

Dengan memberi perhatian seperti seorang ayah, Frankie, akhirnya dapat mengantarkan Maggie menjadi seorang petinju profesional yang sangat disegani lawan-lawannya. Frankie, bahkan dapat mewujudkan impian Maggie untuk memperoleh kesempatan bertanding dalam perebutan gelar juara dunia.

Walaupun film ini berbicara tentang dunia tinju, penuh dengan adegan pertandingan tinju. Tetapi sebenarnya film bukan film tinju. Ini film tentang kegigihan, pantang menyerah, dan keyakinan pada impian yang akan diraih. Ini film tentang hubungan antar manusia yang mencari keluarga, dimana keluarga biologis kadang-kadang dirasakan bukan keluarga yang sebenarnya. Ini film tentang perhatian seorang ayah kepada anak perempuannya.

Hanya sedikit film yang setelah saya tonton, sehari dua hari kemudian ceritanya masih membekas dengan jelas, bahkan masih mengganggu pikiran saya. Film ini salah satunya. Itu sebabnya saya suka sekali film ini. Watch it, it’s remarkable!

nb: copy yang saya tonton text bahasa Indonesianya amit-amit payahnya. Jadi pakai saja text bahasa Inggrisnya.

1 komentar:

  1. duh, saya belum pernah nonton film yang kayanya jadul banged,hehe
    tapi saya setuju kalau kegigihan dan peran orang tua dalam menggapai cita-cita itu penting. Tapi berdasarkan pengalaman saya sih tidak hanya itu peran serta UANG di jagad raya ini yang ga kalah penting, bahkan bisa menghapus semua kegigihan kita ketika mendengar kata UANG...
    Well, kita sesuaikan saja mungkin dengan kondisinya ya....

    BTW, ko belum jadi pengikut saya sih????

    BalasHapus