Rabu, 31 Desember 2008

BERANI MEMILIH

(Tulisan ini sebenarnya komentar untuk untuk tulisan “Life is about choice” pada www.vitachuya.blogspot.com. Karena terlalu panjang jadi saya muat di blog saya ini sebagai tulisan pertama)

“Andai hidup tak perlu memilih, andai manusia hanya menjalani tanpa harus memilih. Mungkin hidup ini tak akan terlalu sulit.”

Wow! itulah kesan saya sesudah membaca tulisan di atas. Ungkapan di atas seperti benar padahal kalau dipikirkan kembali, betapa boring-nya hidup ini kalau kita tidak perlu melakukan pilihan.

Hidup adalah pilihan. Saya setuju itu Vita. Hidup adalah tentang membuat pilihan. Hidup adalah memilah-milah dan memilih-milih dari sekian pilihan. Hidup adalah tentang mengambil keputusan untuk memilih A atau B. Semua orang pasti pernah mengalami suatu situasi dimana dia harus memilih. Dari yang paling sederhana, memilih menu makan siang misalnya. Memilih sepatu yang akan dibeli, memilih baju yang akan dikenakan, sampai yang lebih serius seperti memilih sekolahan, bahkan memilih pasangan hidup. Semua orang punya pilihan dan semua orang harus memilih (dengan kriteria masing2 tentunya). Ada orang yang memilih A. Ada orang yang memilih B. Tetapi tidak sedikit orang yang mengambil keputusan dengan tidak memilih keduanya. Yang jelas selama orang itu hidup dia akan dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam menjalani hidupnya.

Tetapi banyak orang yang mempunyai masalah dengan memilih. Banyak orang yang merasa tidak nyaman kalau harus memilih. Banyak orang yang merasa kesulitan untuk memilih. Banyak orang yang lebih senang keluar dari situasi harus mengambil keputusan untuk memilih. Banyak orang yang ingin lari dari situasi harus memilih.

Mengapa??

Jawabannya bisa bermacam-macam. Tetapi kalau dirangkum menjadi satu maka akan mengerucut kepada satu hal yaitu takut pilihannya salah. Takut akan akibat yang tidak menyenangkan dari pilihannya jika pilihannya itu dinilai tidak tepat alias salah. Contoh yang paling sederhana adalah mengapa sebagian besar mahasiswa Indonesia tidak mau berbicara pakai bahasa Inggris manakala situasi memungkinkan? Jawaban yang paling umum adalah “Takut salah.” Kalau kita telusuri lebih lanjut, memangnya kenapa kalau salah? Maka jawabannya adalah “Takut diketawain, jadi malu.” Jadi dari pada menanggung resiko ditertawakan temannya karena salah ucap atau salah grammar, tindakan yang paling aman adalah dengan tidak berbicara pakai bahasa Inggris sama sekali. Hal ini diperparah oleh kenyataan sepertinya urat ketawa orang Indonesia sensitif sekali. Lihat temannya jatuh tersandung, orang tertawa. Lihat temannya salah ucap, orang tertawa. Situasi inilah yang membuat mahasiswa tidak berani untuk memilih belajar berbahasa Inggris dengan cara mempraktekkannya sesering mungkin.

Ada orang yang bilang bahwa keberanian mengambil keputusan untuk memilih ada kaitannya dengan tingkat kepercayaan dirinya. Orang yang percaya-dirinya tinggi cenderung lebih berani dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, orang yang percaya-dirinya rendah selalu memerlukan bantuan, nasehat, dukungan, atau dorongan temannya dalam mengambil keputusan.

Keberanian mengambil keputusan adalah suatu keterampilan. Sama seperti keterampilan yang lain, jam terbang sangat berperan dalam rangka menguasai keterampilan ini. Semakin sering orang berani mengambil keputusan semakin piawai dia dalam memilih keputusan yang benar. Semakin sering orang berlatih piano, semakin pandai dia bermain piano. Semakin sering orang berlatih berenang, semakin pandai dia berenang. Semakin sering orang berbicara dalam bahasa Inggris, semakin fasih dia berbahasa Inggris. Dalam semua contoh-contoh tadi semakin tinggi juga rasa percaya-dirinya. Ini sih hukum alam yang tidak bisa dilanggar. Persoalannya sekarang adalah bagaimana melatih keberanian mengambil keputusan untuk memilih? Masalahnya ada pada perceived risk yang ada pada benak orang itu.

Perceived risk adalah resiko yang ada pada pandangan seseorang yang dia perkirakan akan muncul manakala dia mengambil keputusan yang salah. Apakah resiko itu pasti akan muncul? Belum tentu! Kalaupun resiko itu muncul, apakah akan sebesar yang diperkirakannya? Belum tentu! Kembali ke contoh berbahasa Inggris tadi. Resiko apa yang akan dialami oleh seorang mahasiswa yang berani berbahasa Inggris? Ditertawakan teman-temannya karena salah ucap. Apakah hal itu pasti terjadi? Belum tentu! Kalaupun hal itu terjadi, apakah si mahasiswa akan merasa malu? Mungkin ya. Apakah si mahasiswa akan mendadak menjadi bodoh? Jelas tidak. Apakah si mahasiswa akan jadi di asingkan? Jelas tidak. Apakah teman-teman akan terus mentertawakannya sepanjang hari? Jelas tidak. Apakah si mahasiswa akan mendadak jadi sakit? Jelas tidak. Jadi apa yang mesti ditakutkan?....Tidak ada! Resiko terbesar adalah ditertawakan, dan itupun kemungkinannya kecil sekali. Kalaupun ditertawakan.. So what gitu loh? Yang mentertawakanpun belum tentu bahasa Inggrisnya lebih baik. Jadi?.... Give it a shot! Saya selalu mengatakan “Just speako” (dari kata ngomongo). Jangan takut salah grammar just speako! Jika kita tidak pernah berbahasa Inggris karena takut salah, maka selamanya kita tidak akan bisa berbahasa Inggris. Jika kita tidak mau berlatih renang karena takut tenggelam, maka selamanya kita tidak akan bisa berenang. Jika kita tidak mau berlatih naik sepeda karena takut jatuh, maka selamanya kita tidak akan bisa bersepeda. Dan itu pasti!

Kembali ke masalah harus memilih. Jika kita dihadapkan harus memilih A atau B, banyak orang yang memandangnya sebagai tiga pilihan. Memilih A, memilih B, dan tidak memilih keduanya. Padahal kita dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, memilih (A atau B), dan yang kedua, tidak memilih keduanya. Tindakan yang bijak adalah dengan melakukan pilihan pertama yaitu memilih baik A ataupun B. Bukankah kita dihadapkan pada perceived risk jika kita memilih A ataupun B? Well, memilih A ataupun B adalah jauh lebih baik dibanding tidak memilih sama sekali. Kalaupun resiko itu muncul, kita bisa mengambil pelajaran darinya. Selalu akan ada hikmah dari setiap keputusan yang kita ambil. Kita tidak akan mendapat apa-apa jika kita tidak berani mengambil keputusan. Percaya-diri kita pun tidak akan meningkat jika kita berdiam diri saja. Jadi, tentukan pilihan (A atau B) dan segera ambil keputusan. Dan lihat apa yang akan terjadi. Yang pasti kita akan selalu mendapat pelajaran yang berharga dari setiap keputusan yang telah kita ambil. Dan pelajaran itulah yang akan membuat kita semakin berkembang. semakin dewasa, semakin bijak, dan semakin percaya diri.

“Lebih baik berani mengambil keputusan dan salah, daripada tidak berani mengambil keputusan karena takut salah.”

AF

2 komentar:

  1. kata temen pak dya baca novel....

    Katanya kalau kita sulit untuk mengambil keputusan biarkan takdir yang memilihkan untuk kta!!!

    apa maksud dari kalimat itu artinya pasrah?????

    BalasHapus
  2. jangan heran brother..atau siapa pun yang berkunjung ke selatan ..jalan yang belum di aspal beton itu sampai cimanuk itu masuk kab tasikmalaya sedangkan yang aspal mulus beton dan rambu2 evakuasi etc itu masuk ciamis. aku kan dari Cimerak sekitar 2 km dari green canyon...selamat kenal bro.!!

    BalasHapus