Tulisan ini saya pindahkan dari blog FS saya. Jadi bagi yang pernah baca jangan heran isinya sama persis.
The Girls of Riyadh
Rajaa Al Sanea
408 halaman
Rp. 47.000,-
Hari pertama libur Lebaran saya membaca resensi sebuah novel di harian Kompas. Setelah saya baca timbul keinginan saya untuk membaca novelnya. Pas jalan2 ke Gramedia dalam rangka mengiri libur Lebaran, saya comot dua buku yang ringan yaitu The Girls of Riyadh (novel yang resensinya saya baca) dan buku The Naked Traveler (ini mah impulse buying). Keduanya sudah tamat saya. Sekarang saya mau nulis tentang The Girls of Riyadh dulu. Buku The Naked Traveler akan saya bahas nanti.
Novel ini adalah novel pertama yang ditulis oleh seorang gadis Saudi Arabia yang baru berusia 22 tahun! Rajaa Al Sanea. Tidak seperti novel biasanya. Novel ini bercerita tentang empat orang gadis Saudi dari kalangan atas yang diceritakan melalui email yang dikirimkan ke suatu milis setiap Jumat siang. Ternyata email2 yang dikirimkan setiap minggu itu mendapat sambutan yang sangat besar dari masyarakat Saudi. Mereka selalu membicarakannya setiap hari Sabtu di sekolah2, kampus2, kantor2, dll.
Reaksi yang begitu besar terhadap cerita bersambung itu lebih dikarenakan email2 itu dianggap telah menghina tradisi dalam masyarakat Saudi yang selama ini sangat tertutup. Di awal novel ini si penulis sudah mengejutkan pembaca dengan mengambarkan kalangan atas Saudi dimana para gadis minum Champagne, berpakaian seperti pria, dan berpacaran dengan cowok di negara dimana perempuan dilarang memiliki SIM, apalagi bercampur baur dengan lawan jenis di tempat umum.
Dalam wawancara dengan majalah Asharq Al-Awsat, Al Sanea ditanya apakah dia tidak takut mendapat serangan dari berbagai pihak atas keberaniannya menggambarkan kehidupan yang sebenarnya dari kaum wanita Saudi. Dia menjawab:”I was expecting to be criticized and I included that in the introduction of each letter. Differences in opinions should open the door for dialogue and not aggression. We suffer from an inability to accept rival opinions. Deciding whether to support or condemn a certain point of view requires courage and self-confidence. The majority know that I describe real events but certain groups have attacked me. Strangely, a number of individuals who criticized the novel admit they have yet read it!” Jelas ini adalah jawaban yang sangat berbobot dari seorang penulis muda yang berusia 22 tahun. Two thumbs-up buat dia.
Salah satu gadis yang diceritakan dalam novel itu adalah Michelle. Michelle berayah Arab Saudi dan beribu Amerika. Dia tokoh yang paling vokal dalam menyuarakan kritikannya terhadap persepsi orang Saudi dalam memandang bagaimana hukum Syariah semestinya dijalankan. Akibatnya si penulis dikecam oleh berbagai kalangan. Al Sanea sendiri dalam koran Egypt Today mengatakan bahwa novelnya mengandung kritik terhadap tradisi dan bukannya terhadap hukum Syariah dengan mengatakan: ”I respect my religion. I am a faithful Muslim and proud of it. Shariah is an important part of Islam that should be respected,” Lalu Al Sanea melanjutkan, “but there is confusion here. What the novel speaks about are traditions that are not part of our Shariah and have simply hampered our way of life to the point that they have resulted in the misery and suffering of people in our society.”
Ketika dia dituduh telah melanggar garis yang seharusnya tidak dilewati dia bilang: ”What I crossed were merely social taboos, not religious ones. This is a very important clarification. There is a difference between time-honored traditions that cannot survive our modern time and those eternal values upheld by religion.”
Anyway, novel ini sebenarnya novel percintaan dari empat mahasiswi Arab Saudi yang berdomisili di kota Riyadh. Novel ini dihiasi dengan kutipan2 puisi dari tokoh2 besar. Sayang penerjemahannya ke dalam bahasa Indonesia mengakibatkan “rasa” dari puisi2 itu jadi tidak se indah jika ditulis pakai bahasa aslinya. Seandainya saya bisa bahasa Arab, wah kebayang indahnya puisi2 itu (Menurut saya perkosaan yang paling jahat adalah pen-dubbing-an suatu film dari bahasa aslinya ke dalam bahasa lain). Dalam kehidupan percintaannya keempat gadis itu memiliki perjalanan yang berbeda-beda. Tetapi semuanya memiliki mimpi yang sama yaitu menunggu untuk menemukan “Mr Right.” Dari keempat tokoh itu hanya tokoh Shedim yang akhirnya mengerti dan memahami ungkapan “Terimalah pria yang mencintaimu, jangan kejar pria yang kau cintai.”
Well, akhir kata, novel ini sangat memberi pencerahan terutama bagi para wanita muda yang mempunyai mimpi untuk mendapatkan “Mr Right.” Dan juga memperluas wawasan pembacanya terhadap budaya lain yang selama ini kurang diketahui oleh masyarakat luar. Dan saya sangat terkagum-kagum sama kepintaran penulisnya Rajaa Al Sanea.
Mana geulis lagi.
Kamis, 01 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
wah, tulisan bapa bagus sekali, sayang kurang lengkap, jadi saya kurang ngerti, mungkin lain waktu saya mau pinjam, hehe
BalasHapusboleh kan Pak???hohohoho
Mana?? katanya mau jadi pengikut saya....
saya jadi ribet nih kalau mau buka blog bapa!!!