Ini juga saya pindahkan dari blog FS saya. Bagi yang pernah baca isinya sama persis.
A Thousand Splendid Suns
Khaled Hosseini
Qanita
Beberapa waktu yang lalu, sepulang makan siang. Saya melewati gedung pendopo Polban yang sedang ramai dengan acara Career Day. Di depan pendopo itu ada stand buku murah. Tadinya saya hanya ingin melihat-lihat saja. Tapi mata saya menangkap cover buku yang rasanya pernah saya lihat. Kalau tidak salah saya pernah lihat di harian Kompas di seksi resensi buku. Buku itu berjudul A Thousand Splendid Suns karangan Khaled Hosseini. Setelah mengetahui ada diskon, singkat cerita impulse buying take place again. Saya membacanya beberapa bab dalam sehari. Semakin dibaca semakin sulit untuk menghentikannya. Terutama di seperempat bagian akhir buku itu. Sangat mendebarkan! Inilah ulasannya.
Apa yang kita ketahui tentang Afganistan? Tidak banyak saya kira. Paling-paling kita membayangkan negeri yang porak-poranda diobrak-abrik oleh pasukan Amerika sewaktu mereka mencari Osama Bin Laden, yang sampai sekarang tidak pernah ketemu. Negara Afganistan memang negara yang sangat malang. Setelah dikuasai oleh Uni Soviet selama sepuluh tahun, negeri ini dicabik-cabik oleh perang saudara sesama warga Afganistan dari berbagai faksi Mujahidin yang berbeda. Sampai akhirnya kelompok Taliban berkuasa dalam waktu yang cukup singkat. Taliban diusir dari kekuasaannya oleh pasukan Amerika setelah peristiwa 9/11.
Buku ini tidak berbicara mengenai sejarah kekuasaan di Afganistan, melainkan bercerita tentang dua orang wanita yang hidup pada masa Afganistan masih berstatus kerajaan sampai sekarang. Masa Afganistan telah memiliki pemerintahan sendiri yang disokong oleh pasukan Amerika.
Buku ini diawali dengan menceritakan kehidupan seorang anak perempuan bernama Mariam. Kualitas kehidupan anak ini dapat tercermin dari perkataan ibunya yang menghardiknya manakala dia memecahkan mangkuk cina mungil peninggalan neneknya. “Dasar harami kecil ceroboh. Inilah ganjaran yang kudapat setelah hidup sengsara. Harami kecil ceroboh yang menghancurkan warisanku.” Ketika itu, Mariam tidak mengerti. Dia tidak tahu makna harami-anak haram. Dan, dia juga belum cukup besar untuk memahami ketidakadilan, untuk melihat bahwa para pencipta harami-lah yang seharusnya disalahkan, bukan harami yang berdosa hanya karena dilahirkan ke dunia. Nanti nya, ketika dia sudah besar, Mariam baru mengerti bahwa harami adalah anak yang tidak diinginkan, tidak akan pernah mendapat hak seperti anak lain. Tidak akan mendapatkan cinta, keluarga, rumah tangga, dan penerimaan.
Mariam hidup dengan ibunya yang selalu menumpahkan kemarahan dan kekesalan akan nasibnya pada Mariam. Ibunya, biasa dipanggil Nana, adalah seorang pembantu rumah tangga yang dihamili majikannya yang telah memiliki istri sah tiga orang. Setelah diancam oleh ipar-iparnya maka Jalil, majikan itu, mengusir Nana dari rumahnya. Kehidupan yang sebenarnya bagi Nana dan Mariam selalu dimulai pagi hari di Kolba (rumah kecil dari lumpur dan jerami dan beratap datar) yang dibuatkan oleh jalil untuk mereka sebagai penebus rasa bersalahnya.
Kehidupan Mariam semakin carut marut mana kala Ibunya meninggal. Mariam tidak diterima di rumah Jalil dan dipaksa kawin dengan duda tua dari Kabul sewaktu dia berumur 15 tahun ( yang di Semarang lebih muda 3 tahun dari dia :) ).
Membaca kehidupan perkawinannya membuat jantung kita seperti diaduk-aduk. Haruskah seorang manusia yang kebetulan berjenis kelamin perempuan diperlakukan seperti ini? Pertanyaan itulah yang ada dalam benak saya sambil tak bisa lepas dari halaman2 buku ini. Lalu apa arti perkawinan itu sendiri? Kebodohan, kemiskinan, ketakutan, ketidak-berdayaan, ketergantungan, sistem nilai di masyarakat, perang saudara, ego laki-laki dan lain-lain turut mempengaruhi mengapa seorang wanita mau tinggal dan tetap tinggal di dalam neraka perkawinannya yang telah merenggut masa mudanya.
Bangun pagi, masak, membersihkan rumah, kesetiaan, pengabdian, pengabdian, dan pengabdian setiap bulan dalam setahun, setiap minggu dalam sebulan, setiap hari dalam seminggu, dan setiap jam dalam sehari menjadi tidak ada artinya manakala dia tidak bisa memberikan keturunan. Cerita tidak berhenti di sini, tapi masih panjang dan berliku. Dijamin mengaduk-aduk emosi pembacanya. Terasa sekali, buku ini sangat memberi pengaruh kepada para pembacanya. Yang jelas pembacanya diperkaya dengan perenungan, wawasan, dan kekaguman akan keteguhan cinta dan kekuatan harapan.
Saya memuji pengarangnya Khaled Hosseini, seorang Afgan yang hidup di Amerika. Kepiawaian pengarangnya sangat terasa terutama dalam menggambarkan kejadian yang begitu terperinci. Pemilihan kata yang brilian sehingga menimbulkan emosi yang tepat.
Suasana politik Afganistan juga diceritakan sebagai latar belakang yang mempengaruhi seluruh sendi kehidupan warga kota Kabul.
Novel ini adalah novel kedua yang ditulis pengarangnya. Novel pertamanya lebih menghebohkan lagi. Judulnya The Kite Runner. Telah terjual lebih dari 8 juta kopi. Diterjemahkan ke dalam 42 bahasa. dan telah difilmkan oleh Paramount Pictures (saya sudah nonton dvd-nya. Kesimpulan: lebih baik baca bukunya!). Berkat novel The Kite Runner ini, yang berlatar belakang persahabatan, kemanusiaan, dan universalisme, Khaled Husseini menerima Humanitarian Award 2006 dari UNHCR.
Kamis, 01 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Wah kayanya bukunya bagus banget ya pak, saya jadi pengen baca.
BalasHapustapi karena sinopsis dari bapa sudah banyak menggambarkan isi dari bukut tersebut, kaya nya nanti aja lagi ah pinjem buku itu nya, hehe
keep writing ya pak..
"Kebodohan, kemiskinan, ketakutan, ketidak-berdayaan, ketergantungan, sistem nilai di masyarakat, perang saudara, ego laki-laki dan lain-lain turut mempengaruhi mengapa seorang wanita mau tinggal dan tetap tinggal di dalam neraka perkawinannya yang telah merenggut masa mudanya" itulah pak... sgala sesuatu punya alasan. tak ada seorang perempuanpun yg ingin hidup seperti Mariam dan Laila. semuanya tergantung pada SIKON. situasi dan kondisi yg tdk memungkinkan untuk lari dr kenyataan. jadi doakanlah kita semua agar tidak memiliki suami seperti Rasheed dan Jalil dan tdk mengalami alasan-alasan seperti itu. Karena kalau alasan itu tdk muncul, kehidupan seperti Mariam dan Laila pun tak akan pernah terjadi "aaaaamiiiiin..."
BalasHapusgood review!!! 10 jempol buat yang nulis ini (siapa yach? kenal nggak yach?)
pak... kaya nya seru nih bukunya...
BalasHapusboleh pinjem ga?
hehehe....
buat nambah - nambah cerita di blog....
belum nulis lagi nih...
The Best Casino Apps in New Jersey - MapyRoo
BalasHapusThe best casino apps in New Jersey. MapyRoo - New Jersey 양산 출장마사지 is home to online 인천광역 출장안마 casinos 동두천 출장샵 that 충청북도 출장안마 offer a full slate of slot machines, 논산 출장마사지 live dealers,